Kimono Biru Buat Ibu
(Cerpen
Remaja)
Menoleh ke
arah jendela ruang
tengah, Bia melihat Ibu masih menekuni
rajutannya. Bia urung tersenyum. Ia mendongak lagi ke ranum buah-buah jambu air di atas
kepalanya. Dijoloknya
dengan galah,
dan ia terpekik: sebiji menimpa jidatnya. Barulah
Ibu
menoleh.
Tahu
Ibu sedang menatapnya, buru-buru Bia
meringis
seakan menahan sakit. “Coba kalau aku punya adik laki, pasti sudah dipanjatnya pohon jambu
sombong ini,” ia menggerutu, “dan
aku tinggal menunggu buahnya berjatuhan.”
Rekah senyum Ibu. Kemarin
bertanya, “Betulkah Ibu ingin punya
kimono biru?” Sekarang bilang, “Coba
kalau punya adik
laki....” Selalu saja Bia membuat Ibu kaget.
Seusai
memunguti buah jambu yang berhasil
dijatuhkan penjoloknya,
Bia
masuk ke rumah. Ibu sudah tidak merajut lagi. Hasil
rajutannya tersampir di pegangan kursi rodanya. Bia menyahut, “Ibu bilang sedang membuat taplak meja. Tapi ini, kok ... ada lengannya? Jangan-jangan ini kimono....”
“Sejak kemarin kamu terus membahas soal kimono,” balas
Ibu. “Memang ada apa dengan kimono?”
“Kalau Ibu mau kimono, nanti Bia yang
belikan.” Karena wajah Ibu malah nampak bingung, Bia memperjelas, “Jangan khawatir, Bia akan beli yang asli: Made
in Japan.”
***
Keinginan
membelikan Ibu kimono membuat Bia datang pada sepupunya yang punya gerai roti
di sebuah plaza. Memelas ia memohon diterima bekerja, paling tidak membantu melayani
pembeli, atau ikut bantu-bantu mengangkut roti dari ruang belakang ke lemari
pajang.
Bukan
cuma menerima keinginannya, sepupunya malah memberi kebebasan memilih jam kerja
yang ia suka. Dan yang amat penting: bersedia pula merahasiakan pada Ibu. Jadi soal Ibu aman; yang tidak aman, bila ada teman
sekolahnya menemukannya telah jadi karyawan toko roti!
Dan
baru di hari kedua bekerja, yang Bia
khawatirkan
sudah terjadi: bahkan yang menemukannya adalah Wandi!
“Bia!” pekik Wandi,
setengah histeris.
“Oh, kau tidak pernah
bilang bekerja di sini….”
Bia butuh beberapa detik menenangkan diri, mengatur napas,
lalu mencoba tertawa. Ah, pikirnya, betapa lucu kehidupan ini: khawatir yang
menemukan adalah teman-teman sekolah, ternyata malah pacar....
“Ini punya sepupu saya,” alasan terbagus
yang kemudian Bia dapatkan. “Kalau aku ikut bantu-bantu, tidak salah, kan?”
“Memang tidak.” Wandi ikut-ikutan pula
mendadak susah mengatur napas; dia amat kaget melihat orang yang dia kasihi
sedang mengangkat wadah yang berisi tumpukan roti dan menatanya di balik kaca
etalase.
“Tapi
kenapa
mesti….”
“Aku bekerja untuk tujuan khusus, Ndi. Tidak semata cari uang.”
Penjelasan Bia belum sepenuhnya tercerna,
seorang perempuan paruh baya mentowel pundak Wandi. “Dicari-cari ternyata di sini. Ayo, sudah ditunggu Papa di mobil, tuh.”
***
Ketika
masih kelas empat SD, Bia punya boneka beruang yang hampir sebesar dirinya. Oleh-oleh
pamannya yang pulang dari Jepang
itu diberinya nama Wangwang. Boneka itu menjadi teman tidur Bia hingga SMP. Begitu
bulu-bulunya tidak enak lagi dipandang, Wangwang ia berikan pada anak tetangga
yang sering main ke rumahnya.
Begitu
giliran
ayahnya yang mendapat kesempatan dari
kantor berangkat ke Jepang,
Bia juga cuma
memesan sebuah boneka. “Yang sebesar
tubuh
saya, Yah.
Kakaknya Wangwang,” guyon
Bia pada ayahnya saat di bandara.
Ayahnya terbahak. “Kelas II SMA masih suka main boneka?”
“Bia akan main boneka hingga nenek-nenek.”
Ayahnya mengacau rambutnya. “Coba,” pancing
ayahnya, “kalau
sudah nenek-nenek, boneka seperti
apa yang akan kamu pesan?”
“Boneka beruang juga, tapi sudah pakai susur dan ada gigi palsunya.”
Ketika itu, sambil menyertai ayahnya terbahak-bahak,
ia sama sekali tidak menduga kalau itulah terakhir kali ia mendengar tawa ayahnya.
Sebelum pulang dari negeri para samurai, tangis Ibulah kemudian yang lebih
kerap ia dengar.
Derit kursi roda menolehkan kepala Bia,
menguapkan yang ia angankan. Tangannya cakap berkelit: menyurukkan lipatan
kertas lecek ke balik saku rok jeans-nya.
Ibu lalai memperhatikan gerak tangan secepat pesulap itu.
Bia berlutut di depan Ibu. Sejak bersitatap
sebelumnya, Bia bisa menebak bila Ibu sedang menyimpan gejolak hati, dan nampak
hendak mengutarakan. Selalu begitu, Bia selalu bisa membaca rona di paras Ibu bila
hendak mengemukakan hal penting, seperti juga dulu ketika hendak mengabarkan berita
jatuhnya pesawat yang membawa Ayah
pulang ke tanah air.
“Kamu
mulai tidak
jujur pada Ibu....”
Bia kaget. Yang hendak dikatakan Ibu ternyata
lain.
“Ibu yakin, tidak ada orang yang belajar
menari di toko roti.”
Kedua lengan Bia lemas, tergeletak di atas pangkuan
Ibu. Semangat
yang ia himpun selama berhari-hari, langsung
runtuh.
“Jadi, Ibu sudah tahu?” gagap Bia. “Bia tidak bermaksud membohongi
Ibu.”
“Ibu sedih,” pintas Ibu. “Menemani sepupumu menjual roti,
ya tak apa. Tapi
kan bagusnya kamu bicarakan dulu. Ibu khawatir,
itu bisa mengganggu
sekolahmu.”
Bia menatap Ibu. “Bia memakai
alasan masuk latihan tari, karena kalau terus-terang bilang mau kerja di toko, pasti Ibu tidak mengizinkan.”
Bia berjeda, menata kalimat terbaik yang sekiranya bisa dimaklumi Ibu. “Percaya,
deh, Bu, tidak akan sampai mengganggu jadwal sekolah.”
Lama ibunya diam, sebelum menyahut, “Untuk apa, Nak, kamu bekerja?
Pensiun ayahmu,
kalau untuk hidup tidak berlebihan, Ibu kira cukup.”
“Coba-coba saja, kok, Bu. Cari pengalaman cari uang jajan sendiri,” lega Bia menemukan dalih. “Sekalian isi waktu luang.”
Menunduk
memeluk bahu anaknya, mata
Ibu berkaca-kaca.
***
Detak
beker di atas meja serasa menuntun detak jantungnya,
sejak tadi, sembari ia menghitung
angka-angka pada kalender. Hitungannya lalu tiba pada
simpul: itu kurun waktu yang cukup untuk mengumpulkan
uangnya. Sepupunya sudah
berjanji akan menambah
gajinya begitu Bia menceritakan tujuannya bekerja. Dan seandainya
belum juga cukup, ia
sudah siap menambahi dari tabungannya.
Bia meraih diary
dari dalam laci mejanya. Di
dalam lipatan
halaman diary itu, tersimpan rapi dua lembar kertas yang sudah lecek karena seringnya ia baca, bahkan ia
merasa urutan kata
dan titik-komanya sudah ia
hapal.
Kertas pertama adalah surat yang ditulis ayahnya.
Ayahnya mengirim surat itu dari Jepang;
usia surat itu sudah hampir setahun. Bia bertekad menyimpan surat itu hingga ia tua. Itulah kenangan terakhir
ayahnya. Ketika Ibu berurai air mata, bercerita tentang kecelakaan pesawat yang
ditumpangi ayahnya sebelum kembali
ke tanah air, saat itu pula
Bia merasa surat itulah peninggalan terakhir ayahnya untuk dirinya.
Kertas
kedua adalah
surat
ayahnya untuk Ibu. Telah berulang-ulang ia menatap surat itu, dan pertanyaan
di benaknya
juga berulang: Dengan membakar kenangan terakhir
dari Ayah ini, apa Ibu bermaksud menghapus pula dukanya?
Nyaris empat sisi kertas surat itu menghitam bekas api. Untung kalimat yang tersisa dari jilatan api pada kertas surat
masih dapat dibaca; dan menurut Bia,
justru kalimat itu yang
sangat penting.
Beruntungnya, potongan kertas yang tersisa dari jilatan apa itu bisa-bisanya Bia
temukan di luar
jendela kamar ibunya, dan sejak itu pula menjadi koleksinya yang amat berharga.
Kertas pertama Bia bentangkan di atas meja.
Untuk kesepuluh kalinya, atau bisa jadi lebih, sejak surat itu ia terima dari Pak Pos, matanya
menyusur pada barisan kalimat di situ. … Nak,
Ayah mengkhawatirkan
kesehatan ibumu. Menurutnya penyakit hipertensinya makin sering kumat.
Kamu bantu ibumu,
selalu ingatkan untuk lebih telaten berobat.... Kelopak
mata Bia mengerjap,
mengusir rebak
air mata, yang memburamkan
tatapnya pada tulisan di situ.
Nak, hiburlah ibumu kala dia murung, hindari
membuatnya marah-marah, senangkan hatinya....
Batin Bia nestapa. Bila Ayah bisa mendengar, mohon dengar cerita ini: sesaat setelah berita
jatuhnya pesawat yang Ayah tumpangi, Ibu langsung syok kemudian
pingsan. Sesudahnya,
Ibu
hanya bisa bergerak
dari satu tempat ke tempat lain bila menggunakan kursi roda....
Baru saja Bia bermaksud membentangkan kertas surat kedua,
yang sisi-sisinya hitam bekas terbakar,
telinganya menangkap derit kursi
roda Ibu. Terburu ia
menutup diary-nya. Ia tak ingin
seperti tempo hari: berkelit secepat pesulap menyembunyikan kertas berharga itu.
***
Beranda
samping benderang. Di situ Ibu sedang merajut; tidak duduk di
atas kursi roda, tapi duduk di kursi beranda. Bia takjub melihatnya. Jadi Ibu sudah meninggalkan
kursi rodanya?
Ia himpun seluruh kegembiraannya, lalu bersimpuh di depan Ibu. Matanya
berkaca-kaca gembira. “Ibu
tidak butuh kursi roda lagi?”
Ibu meraih dan mendekap kepalanya.
“Mematuhi anjuran
dokter. Katanya, latihan berjalan pakai tongkat lebih baik daripada di kursi roda terus,” sahut Ibu. “Eh, bagaimana pekerjaanmu?”
“Aman, Bu.
Tidak akan bentrok dengan jadwal belajar, apalagi dengan jadwal
sekolah.”
“Begitu kesibukan pekerjaanmu meningkat, dan ada tanda-tanda
mengganggu sekolahmu,
segera
minta berhenti,” tegas Ibu. “Pensiun ayahmu cukup, kok, yang penting tidak untuk hidup bermewah-mewah.”
“Eh, rajutan Ibu lain lagi, ya?” Bia mengalihkan percakapan. “Jadi apa
nanti ini, Bu?”
“Mau tahu saja kamu,” elak Ibu. “Ini masih rahasia.”
“Ibu mulai main rahasia-rahasiaan.”
“Sama juga dengan kamu.” Ibu tersenyum. “Coba,
apa alasannya sampai kamu ngotot ingin
membelikan
Ibu kimono biru?”
Bia kelabakan. “Cuma ingin saja,” kelitnya. “Rajutan Ibu yang kemarin kan panjang, ada lengannya, dan warnanya biru. Makanya Bia menduga itu kimono.
Sedang yang ini ... ih, cuma bulat-bulat mengggumpal.”
“Yang
ini kan iseng saja, terserah
nanti jadinya berbentuk apa.” Ibu tertawa.
***
Wandi mengernyit, bingung mendengar pertanyaan Bia, “Andi, kau ada kenalan di Jepang?” Dan belum juga menjawab, Bia sudah melanjutkan, “Lebih bagus lagi kalau keluargamu sendiri, biar lebih gampang prosesnya.”
“Untuk apa?” barulah Wandi punya kesempatan bertanya.
“Untuk minta tolong dibelikan sebuah kimono. Yang warnanya biru.”
“Kimono?” Wandi mengeja ulang sebelum tertawa.
“Kau
mau jadi Oshin?”
Bia tidak memedulikan candaan Wandi, ia terus mendesak, “Ada tidak?” Karena Wandi tidak juga mengangguk, Bia melanjutkan, “Kalau tidak ada,
maka aku akan memaksa: kau sendiri yang ke Jepang membelikan kimono itu!”
***
Berwarna
biru muda, kimono itu sebenarnya tidak begitu pas dengan yang ada di dalam
bayangan Bia. Kainnya memang cukup halus, licin, tapi modelnya lebih mirip
piama mandi. Tidak sepersis model
kimono yang
biasa ia
lihat pada tayangan
film-film Jepang di tivi,
atau yang biasa ia lihat di gambar-gambar. Namun, daripada tidak ada, pikirnya, ini pun sudah lumayan. Ia sudah keluar-masuk beberapa toko mencari, Wandi pun sudah mengeluh
mengiringi, tapi yang didapat hanya seperti ini.
Dengan sepenuh hati, Bia melipat kimono itu,
memasukannya ke dalam lemari, lalu menatap kalender. Semoga tidak salah hitung, gumamnya.
Tidak mungkin meminta penjelasan dari Ibu kapan tepatnya tanggal pernikahan mereka. Bertanya
pada Ibu
sama saja membocorkan rahasia.
Sepotong kertas lecek sisa jilatan api ia pentang lagi di atas meja; surat untuk
Ibu dari Ayah
ketika di Jepang. Bia eja ulang tulisan yang tersisa,
yang masih bisa terbaca: Kimono biru
pesanan Mama telah Papa
belikan. Kelak kimono ini akan menjadi suvenir kelanggengan cinta kita,
ya Ma?
Papa ingin Mama
mengenakannya pada ultah pernikahan kita yang
genap keduapuluh.
Bila Papa nanti pulang....
Entah apa sambungan kalimat ini. Bia tidak
bisa tahu,
karena
kertas di belakang kalimat itu hitam bekas jilatan api. Bia menduga-duga saja,
Ayah mungkin menulis pulang ke tanah air;
meski kenyataannya, Ayah malah pulang ke tempat yang tak
terjangkau….
***
Ketika pulang
dan mendapati rumah kosong,
Bia sempat menduga Ibu ada di rumah Om Banu. Adik ibunya itu memang biasa datang
menjemput Ibu, terutama
kalau istrinya, Tante Mia, kangen ketemuan Ibu. Dugaan Bia buyar begitu anak tetangga
sebelah datang tergopoh, memberi kabar Ibu tadi dibawa ke rumah sakit karena
terjatuh. Kata anak itu, Ibu mencoba berjalan sendiri.
Bia
panik.
Setengah berlari ia ke kamarnya, menatap dan menghitung-hitung angka di kalender. Ia sebenarnya sudah
melakukannya, tapi kali ini ia lakukan untuk memastikan kembali. Merasa
hitungannya sudah tidak meleset, ia
mengambil kado yang disembunyikan di lemari, lalu melesat ke tepi jalan menyetop
taksi.
Selama perjalanan ke rumah sakit, air matanya rebak,
membasahi susut tisu yang ia remas. Puluhan bayangan yang tak ia inginkan,
tentang kondisi Ibu, melela di dalam kepalanya. Berkali-kali ia sentuh isi kado di pangkuannya, sesering ia
menyusutkan tisu ke matanya yang terus melelehkan air. Kalau ternyata benar, bahwa momen penting itu memang hari ini, sesuai hitungannya di kalender
tadi; apakah itu sudah pertanda, bahwa Ibu memang…. Buru-buru ia halau bayangan buruk tentang Ibu,
seraya terus merapal doa.
Di belokan koridor rumah sakit, ia melihat Om
Banu. Bia menghambur, memeluk seraya menangis.
“Ibu kamu tidak apa-apa.” Om Banu mengusap bahunya. “Itu di dalam kamar, malah ketawa-ketawa melihat kamu.”
Bia terpana, takjub merasa sedang melihat sebuah mukjizat. Ibu
berbaring seraya memeluk hasil
rajutan
yang sejak beberapa hari selalu dibawanya.
Saling dekap dengan Ibu, tangis Bia bersela kata, “Oh, syukurlah,
Ibu tidak apa-apa....”
“Ibu sedang bandel, mencoba berjalan tanpa kruk.” Kerjap
bola mata Ibu.
Bia teringat kado yang dibawanya, yang tadi
ia geletakkan saja di luar.
Ia mengambilnya, mengangsurkan
dan
disambut Ibu, “Apa ini?”
“Hadiah
ultah
pernikahan Ibu dengan Ayah yang ke.…” Sejenak Bia ragu. Berpikir
sejenak, lalu melanjutkan, “Yang ke duapuluh….” Saat
mengatakannya, Bia
teringat
potongan
kertas lecek sisa jilatan api yang terselip rapi di dalam lipatan diary-nya.
Ibu terpana. Sejenak pula berpikir, sebelum menabok lembut kening anaknya. “Sok tahu. Kamu salah hitung.” Gelak Ibu. “Itu masih seminggu lagi. Makanya,
konfirmasi dulu dong ke
Ibu.
Bagaimana kamu mau
menghitung dengan tepat, saat itu kamu
kan belum
ada?
Kalau hari kelahiran kamu, mulai dari tahun, bulan, tanggal, hari, jam, bahkan
sampai ke menitnya, Ibu tahu persis dan tidak akan keliru.”
“Bukan juga hari ini, kok,” protes Bia
tersipu. “Ibu ternyata
bisa juga
salah.”
“Yang bilang hari ini siapa?” kekeh Ibu lagi. “Lusa, pas jatuh hari
Selasa. Karena kamu duluan kasih kado, padahal seminggu lagi, ya Ibu juga kasih kado sekarang. Biar impas.”
Ibu
kemudian menyodorkan hasil rajutan yang tadi dipeluknya. “Ini hadiah ultahmu
yang ke-17, ya.” Bia menggigit bibir. Tadi ia kira itu hanya gumpalan benang
hasil rajutan yang tidak jadi-jadi, ternyata itu berbentuk. “Boneka beruang
rajutan Ibu. Jelas tidak sebagus kalau beli di Jepang, seperti yang pernah kamu
pesan pada Ayah saat itu.”
Ibu telah membuka pula kado yang tadi ia sodorkan. Suara Bia serak, “Tidak sebagus kimono
biru yang Ibu
pesan pada
Ayah….” Kalimat
Bia tidak tuntas. Tangisnya lebih dahulu mengurung. Ibu mendekap dan ikut terisak. ***
Parepare,
Mei 1993
Versi
revisi: Parepare, Desember 2019
Cerpen ini diterbitkan
pertama kali di majalah: ANITA
Cemerlang no: 440 – Mei 1993,
dan ikut
dibukukan dalam kumcer: Menghimpun Butir Waktu/penerbit
Lovrinz Publishing/2017.



0 Response to "Kimono Biru Buat Ibu"
Posting Komentar