Skak! Mat!
(Cerpen Remaja)
Cukup lama aku memikirkan kalimat
pembuka untuk mengenalkan Aldin pada Kakek. Andai Aldin tidak terus mendesak,
rasanya aku ingin membatalkan, daripada terus dicekam tegang.
Kakek
sangat protektif pada aku. Jangankan teman cowok, teman cewek pun akan ditanyai
macam-macam bila bertamu ke rumah. Apalagi kalau mengajak keluar, Kakek akan
menginterogasi dulu baru memberi izin.
Sejak SMP, hingga SMA kelas XI sekarang,
aku memang memilih tinggal dengan Kakek. Aku tidak suka terus-terusan pindah
sekolah, mengikuti perpindahan Papa dari satu negara ke negara lain sebagai
diplomat. Makanya Kakek-lah yang menjadi orang tuaku, pengganti Papa dan Mama
di sini.
Memang,
aku tahu sikap Kakek itu karena dia sangat sayang sama aku. Aku maklum, Kakek
melakukan itu karena ingin aku ada di dalam perlindungan dan pengawasannya. Dan
sikap ngotot Aldin, yang terus mendesak ingin datang ke rumah, membuatku merasa
bingung: kalimat pembuka apa yang sebaiknya dikatakan pada Kakek, agar bisa
terkesan?
Tentu
saja aku ingin Kakek terkesan pada sosok Aldin, pada tatapan pertamanya.
Soalnya, Aldin bukan cuma teman sekolahku, tapi juga pacarku....
***
“Kek, ini Aldin,” aku menyahut
terbata-bata. Sekilas kulirik tatap curiga di mata Kakek. Begitu melihat bibir
Kakek bergerak hendak membuka, buru-buru aku menambahkan, “Aldin ini juara
catur di sekolah kami, Kek.”
Bibir
Kakek terkatup. Matanya mengerjap-ngerjap. Ah, aku menduga Kakek mulai
tertarik.
Segera
kuteruskan, “Aldin sekarang sedang sibuk berlatih, Kek, menyiapkan diri
mewakili sekolah kami menghadapi kejuaraan catur tingkat kota.”
Aku
merasa lega. Plong! Kalimat pembukaku mengenalkan Aldin ternyata lancar dan
lepas.
Kakek
tersenyum. Tangannya terangkat, kemudian mendarat pelan di pundak Aldin. Suara
paraunya menyusul, “Hebat, hebat. Kakek suka anak muda yang hebat main catur.”
Waktu
datang tadi, terlebih ketika sudah berdiri di depan Kakek, kulihat wajah Aldin
cukup tegang. Dia sudah sering mendengar cerita tentang sikap Kakek pada teman
cowok yang datang ke rumah. Suara Kakek barusan telah menghapus raut tegang
itu. Aldin langsung tersenyum lebar.
“Nah,
bagaimana kalau Kakek mencoba kehebatanmu?”
Mata
Aldin beralih menatapku. Senyumnya mengerut, berganti bingung. Baru aku
teringat: selama ini, aku tidak pernah bercerita pada Aldin bahwa kakekku juga
pernah juara catur.
***
Di halaman belakang rumahku ada gazebo.
Untuk naik ke lantainya, ada undakan beton tiga susun yang mesti dilangkahi.
Dasar undakan itu dikelilingi kolam ikan koi. Mataku lebih suka menatap ke
ikan-ikan koi yang tidak lelah bergerak di dalam kolam itu, ketimbang menatap
papan catur yang mengantarai Kakek dengan Aldin.
Tadi
Kakek langsung mengajak Aldin ke halaman belakang, ke atas gazebo ini, begitu
selesai aku perkenalkan. Diajaknya pula aku, “Ris, kamu harus menonton. Ini
tidak biasanya, ini pertandingan antar-juara.” Kakek begitu bersemangat
mengatakannya.
Aku
tidak tahu main catur. Lebih tepatnya tidak berminat. Kakek sering mengajariku,
mulai dari menyusun biji-biji catur hingga cara melangkah setiap bijinya. Belum
juga pelajaran itu terekam di otakku, Kakek sudah menambahi hapalan nama-nama
tiap biji catur, istilah-istilah dalam permainan catur, bahkan lengkap dengan
strategi bermain. Bukannya mulai tertarik, aku malah mumet.
Tadi
aku merasa ikut tegang dan berdebar-debar menunggu akhir pertandingan. Aku
membayangkan, bila Aldin yang kalah, apalagi bila permainan Aldin menurut Kakek
biasa-biasa saja, maka Kakek tidak lagi terkesan padanya. Namun, semakin lama
menunggui mereka bermain, rasa tegangku mulai hilang, berganti rasa jemu dan
mulai terkantuk-kantuk.
Kurasa
mataku sudah mulai terkatup, ketika parau suara Kakek terdengar, “Skak mat,
ya?” Dan kulihat Kakek menggeleng-geleng.
Rasanya
aku ingin melonjak girang. Ternyata Aldin yang menang!
“Rissa,
kamu buatkan kami kopi,” Kakek berteriak ke arahku ketika aku turun dari
gazebo. “Pertandingan ini berat.”
Sekilas
kulirik Aldin. Matanya berkedip jenaka ke arahku, sebelum dia memulai lagi
menyusun biji-biji caturnya.
***
Sendok di dalam gelas masih
berputar-putar mengaduk kopi seduhan ketika suara Kakek di luar terdengar lagi.
Aku mengangkat kepala, melewati jendela dapur. “Skak mat lagi, ya? Aduh....”
Berarti
Kakek kalah lagi. Aku tersenyum dan adukanku makin kencang. Saat baki yang menadah
dua cangkir kopi mengepul panas kuletakkan di lantai gazebo, aku menyempatkan
menatap Kakek lebih lekat. Kerut wajahnya seakan bertambah. Begitu serius Kakek
menatap papan dan biji-biji catur di depannya.
Mendadak
aku merasa bersalah. Melihat mimiknya, Kakek telah mengerahkan semua
kemampuannya melawan Aldin. Wajah Kakek terlihat tertekan begitu, dan aku malah
tersenyum senang ketika dia kalah?
Muncul
pertentangan di dalam batinku. Aku tahu, selama ini bila ada yang
mengalahkannya, maka Kakek akan terus penasaran sampai dia berhasil mengalahkan
orang itu. Jadi Kakek akan terus mengajak orang itu bermain sampai
mengalahkannya. Aku ingin Aldin seperti itu, agar Kakek terus mencarinya, terus
mengajak datang ke rumah untuk adu-tanding dengannya.
Namun,
demi melihat betapa kisut wajah Kakek, begitu serius ingin mengalahkan Aldin,
aku jadi kasihan juga pada Kakek. Aduh, rancangan kalimat pembukaku mengenalkan
Aldin pada Kakek, ternyata berefek jauh begini.
“Nah,
skak mat lagi, Kek,” kali ini suara Aldin.
“Kamu
hebat, Aldin.” Kakek menyeruput kopinya. “Baru kali ini ada yang mengalahkan
Kakek sampai tiga kosong.”
Papan
catur dibalikkan. Pertandingan sore ini telah berakhir. Aku merasa lega: senyum
Aldin dan senyum Kakek menyatu.
“Kapan
lagi kamu datang?” tanya Kakek, begitu Aldin berdiri. “Kakek masih penasaran.
Permainanmu sangat taktis, seranganmu bergelombang, dan pertahananmu cukup
rapat.”
Aku
tertawa. Kakek seperti menjelaskan sebuah pertandingan bola.
Malamnya,
ketika aku rebah di tempat tidur, Aldin mengirim pesan di WA. Tulisnya: Aku jatuh hati pada kamu, kakekmu jatuh hati
padaku. Klop!
Rasanya
sepanjang malam aku tersenyum senang.
***
Kakek lalu
punya kebiasaan baru: setiap dua atau tiga hari, dia akan bertanya, “Kapan
Aldin datang?” Padahal telah berkali-kali, entah berapa kali, Aldin datang dan
mengulang adu-tanding dengannya. Dan selalu saja Kakek menggaruk kepalanya
setiap satu babak berakhir: Kakek kalah. Lalu dua-tiga hari kemudian, Kakek
mengulang lagi pertanyaannya.
Awalnya
aku dan Aldin senang-senang saja. Namun, setelah berulang beberapa kali, Aldin
mulai mengeluh.
“Ris,
aku itu pacaran dengan kamu, atau dengan kakekmu?”
Aku
tertawa tipis.
“Aku
tidak bercanda, Ris. Aku serius!”
Sebenarnya
aku pun merasakannya. Kedatangan Aldin ke rumah bukan untuk aku, tapi untuk
Kakek: untuk papan dan biji-biji catur Kakek. Tidak ada kesempatan sesempit apa
pun bagi aku dan Aldin ngobrol berduaan. Setiap Aldin datang, Kakek langsung
mengajaknya memutari halaman samping menuju gazebo di belakang rumah. Papan
catur Kakek sudah siap di sana untuk menghabiskan waktu berjam-jam.
“Harus
ada cara, Ris, untuk menghentikan ini,” keluh Aldin lagi.
***
Cara itu
aku temukan setelah memikirkannya beberapa hari. Aku merenung memikirkan
kebiasaan-kebiasaan Kakek selama ini.
Di
sekolah, aku mengutarakannya pada Aldin.
“Selama
ini, Kakek selalu penasaran bila ada yang mengalahkannya,” kataku. Kami duduk
di pojok kantin, dekat jendela yang menghadap ke lapangan basket. Es cendol dan
lemper menemani jam istirahat kami.
Lanjutku,
“Kakek akan selalu mengajak orang yang mengalahkannya untuk tanding ulang,
sampai orang itu berbalik dia kalahkan. Makanya, di kompleks rumah kami, Kakek
tidak suka lagi mengajak orang situ bermain, karena sebagian besar telah dia
kalahkan.”
Aldin
mengaduk es cendolnya. “Berarti kakekmu
harus mengalahkan aku,” sahut Aldin mengambil kesimpulan.
“Harusnya
seperti itu,” anggukku. “Aku perhatikan selama ini, bila ada yang
mengalahkannya, maka Kakek akan mengundang terus orang itu datang ke rumah
untuk bermain catur. Lawan-lawan mainnya selalu diperlakukan seperti itu. Atau
biasa juga Kakek yang menenteng-nenteng papan caturnya, mengitari kompleks
mencari lawan yang belum pernah dia kalahkan.”
Selepas
menandaskan es cendol di gelas, Aldin tertawa. “Berarti solusinya gampang.”
“Apa?”
tanyaku.
“Setiap
main dengan Kakek, aku memilih mengalah saja. Dan Kakek tentu enggan mengajakku
lagi bermain.”
***
Akhirnya Aldin
benar-benar mengganti strateginya. Dari dua kali tanding terakhir dengan Kakek,
dia sengaja mengalah sehingga Kakek yang menang. Setiap tanding, selalu tiga
kosong untuk kemenangan Kakek.
“Berhasil!”
Masih di gerbang sekolah, Aldin sudah berseru padaku. “Akhirnya aku berhasil
dikalahkan oleh kakekmu.”
Kami
tertawa-tawa bersama. Rasanya aneh, ironis, atau entah apalah istilah yang
tepat: Aldin merasa berhasil karena kalah!
“Jadi
sekarang, kalau aku ke rumahmu, bukan lagi untuk bermain catur dengan Kakek,
tapi untuk mengapeli kamu. Yihui, mulai sekarang kita bisa pacaran dengan
sebenarnya!”
Kegilaan
Aldin dia bawa sampai ke dalam kelas. Saat ada teman yang menegur, dia cuma
menyahut, “Aku senang, karena aku kalah.”
***
Dalam redup sore, kami duduk
berselonjor di atas gazebo. Aldin memelankan suaranya; katanya takut Kakek nguping.
“Akhirnya,
cita-cita kita terkabul,” sahut Aldin. “Kakek sepertinya tidak berminat lagi
padaku.”
Aku
memukul kakinya ketika suara tawanya malah serupa ledakan.
Sudah
tiga kali Aldin datang sejak berhasil ‘mengalahkan’ dirinya dari Kakek. Dan
pada setiap kedatangannya itu, Kakek memang terlihat mulai cuek padanya. Kakek
hanya membiarkan Aldin menuju gazebo, tanpa terlihat ada minatnya mengajak
bermain. Bahkan kalau aku amati, sejak Aldin dikalahkan, Kakek malah suka
bermain catur sendirian. Dia menyusun sendiri biji-biji caturnya, lalu
menjalankan sendiri secara bergantian antara biji-biji putih dan biji-biji hitam.
“Malah
Kakek sekarang lebih suka main sendiri,” kuceritakan hal itu pada Aldin.
“Itu
malah bagus.” Aldin terus tertawa. “Kakek bisa mengalahkan dirinya, atau
memenangkan dirinya, sesuka hati Kakek.”
Tawa
Aldin mendadak terhenti. Kakek muncul dari pintu belakang. Kakek berjalan ke
arah kami. Didekapannya ada papan catur.
Aku
membayangkan biji-biji catur di dalam kotak papan itu sedang saling serang,
bergerantang ribut, ketika Kakek membuat kotak catur itu berayun saat kaki
Kakek menaiki undakan gazebo.
“Kakek
penasaran,” sahut Kakek, duduk di sisiku. Aku bergeser memberinya tempat, agar
Kakek bisa berhadap-hadapan dengan Aldin.
“Penasaran
bagaimana, Kek?” Aldin menatap Kakek.
Kakek
membuka kotak papan caturnya. Ujarnya, “Dalam dua kali tanding kita yang
terakhir itu, Kakek lihat permainanmu tetap taktis, seperti biasa. Serangan
bidak-bidakmu tetap frontal dan bergelombang. Pertahanan pun masih rapat. Tapi,
aneh; ketika permainan sedang seru-serunya, kamu kok selalu membuat langkah
keliru. Blunder yang seharusnya tidak
terjadi. Makanya itu yang membuat Kakek bisa menang.”
Kakek
mulai menyusun biji-biji caturnya. Sambil menyusun, dia terus mengoceh, “Kakek
menganalisanya beberapa hari ini. Dan semakin Kakek analisa, semakin penasaran.
Kakek malah merasa heran.”
Oo,
jadi itu yang dilakukan Kakek sampai sering bermain sendiri. Kakek benar-benar
pecatur sejati! Tidak percuma piala juaranya sudah puluhan tahun terpajang di
ruang tamu.
Aku
melihat Aldin mulai ikut menyusun biji-biji caturnya, dengan gerakan
ogah-ogahan.
“Kita
ulangi lagi,” kata Kakek, lalu mendorong pion putih yang telah dipilihnya.
“Kita lihat di mana salahnya. Kakek tidak yakin juara seperti kamu bisa
sering-sering bikin langkah blunder.”
Buru-buru
aku membuang tatap. Aku tidak ingin terus-terusan menatap wajah Aldin yang
mendadak keruh. Mengalahkan Kakek, dan memenangkan Kakek, ternyata sama saja
efeknya untuk Aldin. Aku mulai menduga, dalam redup sore di atas gazebo ini
pada hari-hari mendatang, bukan lagi tawa-canda Aldin dan aku yang akan
terdengar, tapi pekik parau suara Kakek, “Skak! Mat!” Baik ketika kalah, maupun
ketika menang.
Malamnya,
Aldin mengirim pesan di WA. Isinya: Maaf,
Rissa, aku sekarang telah menjadi milik kakekmu sepenuhnya.
Aku
tersenyum kecut. Jadi seperti inilah hasil kalimat pembukaku tempo hari, ketika
mengenalkan Aldin pada Kakek. ***
Parepare, 2016/2017
(Cerpen ini dimuat pertama kali di majalah: Gadis
no: 3 / Maret 2017; dan ikut terhimpun
di dalam buku: SVETSNA, penerbit: Mecca Publishing, 2018)


0 Response to "Skak! Mat!"
Posting Komentar