Setelah Hari Celaka
Benda
laknat itu pasti terselip di balik katup rapat jaketmu, sampai tanganmu
sering-sering beringsut meraba. Masih saja pistol itu kamu bawa setelah sebutir
peluru dari moncongnya nyaris melubangi jidatku. Uh, kamu menganggap aku masih
bisa melawan?
Kemarin,
seusai kita memperdebatkan di kantor tanpa kesepakatan, kamu nekat mengikutiku
naik ke lantai tujuh. “Kau memang tak tahu diri!” sentakmu, berbarengan dengan
dorongan kasarmu pada pintu apartemen. “Setelah kau merebutnya dariku, sekarang
kau buat aku serupa pengemis meminta sepuluh persen dari bagian kalian.” Lalu kamu
merangsek, meneruskan rengek, “Kau lupa, kalau papanya adalah pamanku sendiri,
dan sebagian aset perusahaan masih milik kakekku? Heh, harga yang kutawarkan pun
cukup lumayan: enam ratus lima puluh juta, kuangsur empat kali.”
Kukibaskan
tangan. “Aku tahu kamu sudah bangkrut,” lecehku, sekilas menatapmu sebelum
membalik badan. “Penawaranmu hanya akal-akalan. Kamu hanya ingin menjualnya
kembali, dan bisa jadi selisih harganya yang akan kamu pakai mengangsur. Pasti
kamu sudah pantau prediksi harganya yang akan naik.” Kulepas gelak, menoleh
kembali ke arahmu, dan senang melihat parasmu telah berubah serupa rajungan
rebus akibat didih amarah.
“Huh,
andai tidak ada kau yang menjadi hantu pengganggu dalam hubungan kami,” terus saja
kamu bersungut. “Kau itu hanya keluarga jauh mamanya. Oleh kelicikanmu, kau telikung
aku, mendahuluiku menikahinya agar kau mendapat bagian itu, padahal kau tahu
aku tengah mati-matian mendekatinya.”
“Jadi,
kamu tidak percaya jodoh?” Kukeraskan tawa. “Walau kamu yang mengiba seperti
anak kecil mengharap cintanya, tapi justru lamaranku yang ia terima. Itulah
jodoh.”
Ketika
kamu merogoh selipan pinggangmu, mengeluarkan pistolmu, sempat kuduga itu hanya
pistol mainan. Makanya aku berbalik membelakangimu dan menukas, “Tidak ada lagi
negosiasi,” lalu menuju balkon. Aku sumpek mendengar ocehmu, dan merasa butuh
oksigen lebih banyak. “Berapa persen pun dari saham itu tidak akan kuberikan. Sudah
terlalu sering kamu merecoki, bahkan membodohi keluarga istriku.”
Saat
itulah kudengar suara letusan. Pistol di tanganmu ternyata bisa menyalak,
menyentak tubuhku tersandar ke pagar balkon. Sempat kukira jidatku telah
bolong. Sedikit meleset, peluru itu hanya mengirim desing di atas rambutku.
Aku
kemudian lalai menduga gerakmu. Masih dalam buai kaget, ternganga menyadari
pistolmu ternyata betulan, sampai aku kasip mengelak ketika kamu menyerbu ke
arahku. Kamu langsung mengait tengkukku dengan lingkaran kukuh lenganmu, sedang
lenganmu yang bebas meraih pinggangku dan mengangkatnya. Baru kusesali kenapa
aku ditakdirkan bertubuh agak kurus. Jangkung kita hampir sama, tapi bobot
tubuhku agaknya sepuluh kilo lebih ringan darimu. Dengan gampang kamu
mengangkatnya, sebelum menjungkalkan keluar dari pagar balkon.
Di
atas kaca tebal penutup kanopi yang berderak, tubuhku berdebam. Tersedot
gravitasi sejak dari lantai tujuh apartemen, rupanya membuat tekanan bobot
tubuhku berlipat. Suara derak itu sontak memekikkan orang-orang yang melintas,
saling-sela dengan teriakan, “Orang bunuh diri.... Melompat dari balkon....”
Itukah
yang kamu inginkan, agar orang menduga aku sengaja melompat bunuh diri? Uh, terkutuklah
kamu! Setelah kejadian yang mencelakakanku itu, pasti kamu belingsatan
meninggalkan apartemen karena panik. Kamu pasti tidak menyadari, ada saksi di
dalam kamar mandi yang (tentu!) menyaksikan perbuatanmu. Bisa jadi dia telah
menyelasikan mandinya, sejak tadi mengintip ulah brutalmu, tapi oleh rasa takut
karena kamu berpistol membuatnya tidak berani keluar.
Dan
hari ini, kamu datang pura-pura ikut bersimpati. Setelah memepet dan menyela
orang-orang, kamu berhasil merapat di sisinya. Kamu memang keparat!
***
Parasnya
memeram duka. Air matanya seakan membeku serupa butiran es, merebak berkaca-kaca
di kedua matanya. Tatkala ia menyentuh keningku, mengusap sebelum mencium,
barulah bahunya berguncang. Tangisnya pecah, melelehkan butiran es dari rebak bola
matanya.
Segenap kasih yang ia miliki telah
berubah menjadi lara. Telapak tangannya yang terus mengusap pipiku, merambatkan
guncang sedu-sedan pada seluruh tubuhnya. Gaun berwarna gelap yang ia kenakan
tidak lurus jatuh menjuntai, tapi agak menggembung di bagian perutnya. Kamu pasti
paham, di balik kulit dan daging perutnya yang menggembungkan gaun itu, ada
sesosok janin sedang meringkuk lelap dan sedang berupaya mematangkan diri.
“Aku
bersedia menjadi bapaknya.” Belah mulutmu yang serupa desis ular, tidak sampai mendongakkan
kepala orang-orang yang sedang bertafakur diam. “Dengan licik dia merebutmu dariku.”
Kepalamu sedikit meneleng ke arahnya, meneruskan geremeng, “Dia memang laki-laki bodoh, dan tidak bertanggung
jawab.”
Ia tidak segera membalas desis mulut
busukmu. Kedua tangannya memeluk perutnya, mungkin menenangkan geliat marah janin
di baliknya. Ah, aku berharap titis darah-dagingku itu tahu apa yang telah
terjadi, agar bisa mulai menabung murka, demi suatu saat menimpali dendamku
padamu.
“Kau pikirkan sendiri; di saat kau
sedang hamil, dengan bodoh dia malah melemparkan tubuh keroposnya dari balkon,”
culas mulutmu tak juga berhenti berdesis di sisi kepalanya. “Kupastikan dia memilih
tindakan bodoh itu karena punya masalah serius. Pasti dia sedang terlilit utang
besar, atau malah menghadapi sebuah kasus, bahkan terlibat sebuah skandal, dan
dia tak kuat menanggang rasa malu. Hm, seperti itu yang kau anggap laki-laki bertanggung
jawab?”
Menyela provokasi busukmu, ia menukas,
“Tidak usah pura-pura mengkhotbahiku. Kau kira aku tidak tahu apa yang telah kau
lakukan padanya?”
Sekilas kamu melirikku, tersenyum
sinis sebelum membusakan kembali busuk mulutmu, “Jangan berasumsi. Semua orang
tahu, dengan bodoh dia melompat dari balkon apartemen.”
“Dia dilemparkan, setelah diancam tembakan....”
Betapa tenangnya kamu. Reaksimu hanya menggigit
bibir bawah, terkesan sedang meredam gejolak emosi, ketika ia dekatkan mulutnya
ke sisi kepalamu dan menohok, “Anak kami, suatu saat akan membalaskan dendam
bapaknya.” Oh, ia pun paham harapku! Lalu tangannya kembali memegang perutnya, menenangkan
cikal-bakal keturunan kami itu, yang pasti ikut paham apa yang barusan
dikatakan mamanya.
“Jadi, kau mencoba mengancamku?”
Memilih berbalik, lalu mengentak kaki menjauh,
kuyakin ia mulai muak mendengar ocehmu. Ia memilih menjauhimu pasti karena tak
tahan kamu recoki.
Aku hanya bisa pasrah pada apa yang akan
terjadi padanya. Gerak samarmu menyentuh selipan pinggangmu sebelum mengekori
langkahnya, memperjelas apa yang sedang kamu rancang. Kamu pasti bermaksud pula
menembaknya!
Di hari celaka kemarin, sudah kuduga
ia melihatmu dari intip sela pintu kamar mandi. Tadinya aku berharap kamu tidak
usah tahu bahwa ia melihat perbuatanmu itu, sampai suatu saat nanti ia bersaksi
di pengadilan. Namun, terlanjur ia mengatakan tadi, bahwa ia tahu apa yang
telah kamu lakukan padaku.
Kamu
mengikutinya ... uh, kamu pasti bermaksud menggiringnya ke luar, ke tempat yang
tak terlihat orang-orang. Di situlah kamu akan menembaknya; mungkin kamu
berpikir untuk melenyapkan saksi mata, atau malah upaya memunahkan penerus
dendamku yang sedang ia kandung.
“Dia
yang melemparkan suamiku dari balkon! Dia yang membunuhnya!” Teriakan itu, amat
mendadak dan seperti histeris. Entah apa yang kamu perbuat padanya, sampai ia tak
kuat lagi menyimpan sabar dan meneriakkannya.
Menyusul riuh orang-orang memekik dan
saling-teriak, ada suara tembakan dua kali. Aku yakin kamu telah menghabisinya!
Namun,
ia kemudian malah datang kembali ke sisi kepalaku, tersedu lebih lama, melampiaskan
seluruh persediaan air matanya. Ia dekatkan bibirnya yang bergetar ke telingaku,
terus mengguguk sembari berbisik, “Oohh ... aku tidak bisa lagi bersabar
menunggu saat tepat melaporkannya ke polisi. Aku tadi berteriak, agar semua
orang di dalam ruangan ini segera tahu dialah pembunuhnya. Itulah sampai dia sangat
marah, lalu mengacungkan pistol ke arahku. Aku nekat menubruknya sehingga arah
tembakannya mendongak ke atas. Oohh ... dia hampir pula membunuhku....”
Setelahnya,
sedikit lebih tenang, ia terus memperjelas apa yang barusan terjadi, “Di luar, ternyata
ada polisi yang mengawasi. Bisa jadi itu kasusnya yang lain. Polisi itu menyerbu
masuk begitu ada suara tembakan. Dia berbalik, mengarahkan pistolnya ke polisi
itu, tapi polisi itu lebih tangkas dan duluan menembaknya. Oh, bajingan itu telah
menemukan karmanya, jadi tidak perlu lagi kita bebani anak kita dengan warisan
dendam....” Air matanya mungkin pula sudah habis, dan getar tangannya yang
mencengkeram tepi peti mati tempatku berbaring geming, tidak lagi merambatkan
guncang.
Aku
pun tenang. ***
Parepare, Maret
2018/Agust.2019
(cerpen ini dimuat pertama kali di
koran: Solopos, Minggu
22 September 2019).


0 Response to "Setelah Hari Celaka"
Posting Komentar