Diary Rara

            (Cerpen Remaja)
Gerak mengunyah mulutnya terhenti. Bulatan bakso yang telah lumat di antara baris giginya itu gagal dia telan, akibat informasi yang disampaikan Edo.
          “Pak Mus memanggilmu. Ada yang melaporkan kamu telah mencuri diary.”
Di samping sebagai guru BP/BK, Pak Mus juga pelatih Kempo mereka. Andai pemanggilan ini soal persiapan mewakili sekolahnya dalam kejuaraan antar-SMA mendatang, Faat tentu riang. Namun, ini tuduhan sebagai pencuri. Dan yang dituduhkan dicuri malah sebuah diary!
          Dengan wajah murung Faat menuju ruang BP/BK. Langkahnya lunglai melewati pintu, kemudian duduk bingung di depan meja Pak Mus.
Pak Mus menatapnya tajam. Terkesan sedang meneliti setiap gurat bingung di wajahnya. Berkata Pak Mus, “Saya sampai kaget mendengar laporan pencurian ini. Seorang kenshi, atlet Kempo seperti kamu, kok bisa berperilaku begitu?”
“Saya tidak pernah mencuri buku begitu, Pak,” elak Faat. Matanya masih membelalak kaget. “Saya bersedia dihukum seberat-beratnya, Pak, bila memang terbukti saya telah mencuri diary,” imbuhnya.     
“Saya pun ragu,” pintas Pak Mus, “karena saya mengenal watakmu. Saya pikir, kalaupun kamu berani melakukannya, tentu ada motif yang sangat khusus.” Pak Mus berjeda, meneliti lebih lekat paras Faat. “Yang melaporkan dua orang. Rara, pemilik diary yang dicuri itu; dan Gyan, yang mencurigai kamu pencurinya.”
          Jantung Faat hari ini benar-benar sedang dilatih. Belum reda kagetnya, datang lagi dua nama ini. Rara? Dan Gyan!
Tak kuasa Faat menahan gemelatuk giginya. Dia geram. Wajah sinis Gyan setiap berpapasan dengannya melela di matanya. Dia tahu teman sekelas Edo itu tidak suka padanya, tanpa dia tahu apa alasannya. Yang membuat kagetnya berlipat-lipat, karena yang hilang ternyata diary Rara!
          Sekelebat pikiran melintas di kepala Faat. Merasa pikiran itu benar, akhirnya dia menjelaskan, “Pak, mereka menuduh saya, mungkin karena mereka sering melihat saya melewati kebun sekolah, yang ada di belakang itu. Soalnya, dari situ saya punya kesempatan melewati jendela kelas Rara. Saya selalu menyempatkan beberapa saat untuk melihat ke arah bangku Rara. Saya melakukan itu, Pak, karena, demi....” Lalu dengan keberanian ‘tingkat tinggi’, Faat membeberkann posisinya dalam masalah ini.
Senyum Pak Mus melebar, lalu pecah dalam tawa. “Sudah saya duga, ada motif khusus,” gelak Pak Mus.
“Tapi saya tidak sampai mencuri....”
“Faat, kamu tetap tersangka,” wajah Pak Mus berubah serius, setelah berjeda dari tawanya. “Karena kamu yang terlapor. Namun, tentu dengan asas praduga tak bersalah,” lanjut Pak Mus. “Jadi, saya akan melakukan pemeriksaan pada seluruh penghuni kelas Rara. Termasuk kamu, tentunya.”
Faat merasakan tubuhnya mengkerut.
***
          Penghuni kelas mendengung serupa serombongan tawon kebingungan, saat Faat masuk kelas diiringi Pak Mus. Dengungnya makin nyaring ketika Pak Mus menjelaskan akan ada pemeriksaan. 
Pak Mus meredakan dengung itu dengan berkata, “Berdasarkan laporan, di dalam kelas ini ada barang yang telah hilang. Jadi ada kasus pencurian. Laporannya, barang itu adalah sebuah diary. Sebuah buku harian. Hm, saya duga isinya tentu begitu penting, sangat pribadi, dan bisa jadi penuh rahasia. Wajar bila pemiliknya panik dan sangat tertekan, sampai melaporkannya.”
Walau Faat hanya tamu di kelas itu, Pak Mus menyuruhnya ikut duduk, dan akan ikut menjalani pemeriksaan. Agak kikuk Faat ketika menuju ke bangku Edo. Mereka berbagi kursi. Teman se-kyu-nya di Kempo itu satu-satunya isi kelas yang menjadi sahabatnya.
“Karena hilangnya di dalam kelas, maka tentu semua penghuni kelas punya peluang menjadi pencuri buku harian itu. Atau, ada yang ingin dengan jujur mengaku telah mencurinya?” Pak Mus mengedarkan tatap. Dia sudah menduga tidak akan ada siswa yang mengacungkan tangan. “Berarti, pemeriksaan akan tetap dilakukan pada semuanya. Termasuk tamu kalian hari ini, yaitu Syafaat, karena ada yang mencurigainya.”
Dengan tatap tajamnya, Pak Mus terus mengedarkan pandang ke wajah-wajah siswa yang mulai tegang. Dia pun menilai-nilai gerak-gerik samar dari siswa yang gelisah.
“Kalian harus maju ke depan, satu demi satu, untuk menggenggam sebuah tongkat sihir.”
Wajah-wajah siswa terlongong. Kaget. Belum juga ada yang sempat bersuara, Pak Mus melanjutkan, “Tongkat sihir ini akan mengeluarkan aura tertentu, getar-getar halus yang khas, bila yang menggenggamnya adalah seorang pencuri.”
Kelas yang sudah tenang, kembali berdengung. Pak Mus merogoh isi tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah tongsis alias ‘tongkat narsis’. Dengung warga kelas makin beragam; ada yang memekik, ada yang menganga, ada pula yang terkikik geli.
“Ini bukan tongkat narsis biasa.” Suara Pak Mus berwibawa. Sedikit pun gurat mimik ingin melucu tidak terlihat di wajahnya. “Perhatikan aturannya: tongsis ini digenggam, tidak sekadar dipegang. Digenggam dengan erat. Bila tangan yang menggenggamnya bukan pencuri, maka tongsis ini tidak memberi efek apa-apa. Sedang bila yang menggenggamnya adalah tangan pencuri, yang telah mengambil diary itu, barulah tongkat ini akan mengeluarkan aura ... ya, semacam getar sihir.”
Wajah semua siswa ikut serius, melihat wajah Pak Mus pun sangat serius. Pak Mus menarik batang tongsis yang dipegangnya, melewati panjang ukuran lengannya. Setelah itu, semua siswa, termasuk Faat, maju satu demi satu ke depan. Ketika pemeriksaan dilakukan, posisi mereka harus membelakangi kelas, agar tidak terlihat oleh yang lain. Mereka diminta menggenggam batang bawah tongsis itu, sedang Pak Mus memegang bagian atasnya.
Proses pemeriksaan itu berlangsung hampir satu jam.
***
Begitu melihat Faat keluar dari ruang BP/BK, Edo mengekor dengan mulut memekik, “Heh, bagaimana ceritanya?”
“Traktir dulu sepiring gado-gado,” sahut Faat, sebelum berbelok masuk kantin sekolah. “Aku lapar.”
“Aku malah lapar campur bingung!” balas Edo.
Sebelum pesanan mereka datang, Faat menjelaskan, “Pak Mus menganggap mencuri diary itu cuma candaan. Buku harian kok dicuri? Kalau yang hilang hp, misalnya, atau uang, maka Pak Mus akan menanganinya dengan cara yang lebih serius. Bisa jadi ada proses hukumnya. Makanya, Pak Mus menangani kasus ini juga seperti candaan. Namun pencurinya, ya tetap diberi sanksi.”
Pesanan makanan mereka datang. Edo langsung mencomot kerupuk, membuat mulutnya berkriuk-kriuk saat Faat melanjutkan, “Pak Mus berkenan menjelaskan padaku, karena aku telah jadi korban fitnah sebagai pencurinya. Pak Mus memanggilku kembali dan menjelaskannya. Dan di situ aku tahu, pencurinya ternyata Gyan.”
“Hah!” Remah kerupuk dari mulut Edo sontak berhamburan keluar.
Faat tidak menceritakan pada Edo penjelasan Pak Mus soal ‘sihir tongsis’ itu. Pak Mus sudah mewanti-wanti untuk tidak mengungkapnya. Proses menggenggam tongsis itu hanya sugesti. Bagi yang merasa tidak bersalah, maka dia menggenggam tongsis dengan santai. Tak ada beban. Namun bagi pencurinya, belum sampai di depan kelas sudah kelihatan groginya. Apalagi ketika sudah menggenggam tongsis itu. Sehalus apa pun, Pak Mus dapat melihat jari-jari tangan pencuri itu gemetar.
 “Aku penasaran, kenapa Gyan ngotot menuduh aku sebagai pencuri diary Rara itu,” ujar Faat berdecap kepedasan. “Sepertinya ini tugasmu, deh. Cari tahu, dong; mereka kan teman-teman kelasmu.”
Edo menyanggupi.
***
Faat menguntit di belakang Edo, dengan ujar, “Seperti apa ceritanya?”
“Traktir dulu sepiring gado-gado,” timpal Edo, sebelum berbelok masuk kantin sekolah. “Aku lapar.”
 “Sialan. Biar kita impas, ya?”
Sebelum pesanan makanan mereka datang, Edo menjelaskan, “Rara minta maaf. Gara-gara diary itu, kau malah difitnah sebagai pencurinya. Itulah sampai dia mau mengatakan semuanya pada aku. Biar tidak ada lagi prasangka.”
“Motif persoalan ini adalah rebutan pengaruh,” sambung Edo. “Maksudku, rebutan perhatian Rara. Belum jelas? Hei, ini rebutan hati Rara!”
“Maksudmu....”
“Kau tambah dulu sebotol teh dingin.”
“Ini bukan lagi impas, tapi aku yang tekor.”
Edo cuma nyengir. Dia mulai mengunyah, mulai pula mengoceh, “Kau tahu, kenapa Rara kelabakan dan panik begitu tahu diary-nya hilang, dan Gyan bilang kaulah pencurinya?” Edo berjeda, menyelesaikan menyesap potongan batang kangkung yang bergelantungan di mulutnya. “Ini cerita tentang seorang cowok pengintai. Cowok itu selalu mengintip dari jendela kelas, menatap nanar ke bangku Rara. Awalnya Rara sebal setiap wajah cowok itu muncul di jendela itu, yang selalu saja menatap nanar ke arahnya. Anehnya, makin lama dia malah mulai suka, bahkan jadi menunggu bila wajah pengintai itu belum muncul. Dia berbalik merasa harinya akan terasa hambar bila cowok itu tidak memunculkan wajahnya. Cerita itulah yang dia tulis di dalam diary-nya yang hilang itu.” Edo menyeka mulutnya. “Nah, wajar kan, kalau dia panik dan kelabakan, begitu tahu cowok yang diceritakan itu justru yang telah mencuri diary itu? Soalnya, tentu cowok itu akan tahu pula isi hatinya.”
“Rara cerita ke aku, bahwa Gyan mencuri diary itu karena penasaran, ingin tahu apa sih yang ditulis Rara di situ setiap ada kesempatan.” Edo berdecap, merasa setiap suap gado-gado di depannya sama nikmatnya dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Soalnya, dia juga jatuh hati pada Rara. Bisa dibayangkan, betapa shock-nya Gyan begitu tahu isi diary itu ternyata tentang seorang cowok pengintai, dan itu adalah pesaingnya memperebutkan hati Rara. Dengan melaporkannya sebagai pencuri diary itu, dia merasa menemukan cara untuk menjatuhkan nama baik pesaingnya.”
“Eh, cowok pengintai yang ditulis Rara di dalam diary-nya itu, aku kan?” Wajah Faat berubah semringah.
“Ge-er.”
“Jadi?”
“Tambah teh botolnya, deh, udara siang ini amat gerah.”
“Pemerasan!” pekik Faat. Lalu dia melompat keluar dari kantin.
“Heh, belum kau bayar....”
Teriak panik Edo itu lenyap. Faat telah mengayuh gegas mencari Rara. Dia berpikir ini saat tepat untuk menemuinya. Paras cewek itu, yang dia angankan akan bersemu merah, berkelebat di matanya. ***
(Cerpen  ini diterbitkan pertama kali di buku kumpulan cerpen:  SVETSNA; Penerbit: Mecca  Publishing, 2018).





0 Response to "Diary Rara"

Posting Komentar