Laba-Laba Emas
Oleh Pangerang P. Muda
Meski
berita itu sudah pernah dia dengar, tapi melihat si pembawa berita sangat
bersemangat, Narmi berpura-pura saja serius menanggapi, “Laba-laba emas?” Coba
pula dia belalakkan mata. “Kau yakin, yang kaulihat itu benar-benar laba-laba
yang disaput emas?”
“Tentu tidak, dong,”
elak si pembawa berita. “Bentuknya saja yang menyerupai laba-laba. Tapi seluruhnya,
memang terbuat dari emas. Besarnya ... wuih, hampir sebesar telapak tangan
bayi! Dan beratnya, aku duga di atas tiga puluh gram!”
Ini yang baru didengar
Narmi: Di atas tiga puluh gram! Kalau
dipakai ke kondangan, mata ibu-ibu pasti pada membelalak takjub. Minatnya sontak
terbit ingin melihat langsung benda itu.
“Sudah banyak, kok,
ibu-ibu yang datang melihatnya,” seperti mampu membaca apa yang dia pikirkan,
si pembawa berita meneruskan. “Sepertinya Ibu Nisah juga bangga, dikerubuti
seperti itu. Sampai dipamer-pamer begitu.”
“Pantas saja beritanya
menyebar begitu cepat,” sahut Narmi.
“Jadi, sudah pernah
dengar?”
“Sudah,” akhirnya dia
mengaku. “Habis, semua tetangga pada membicarakan. Dari mulut ke mulut.”
“Tapi belum lengkap,
deh, kalau belum melihat langsung. Jangan mau kalah, kalau soal heboh-heboh
begini. Kita bisa ketinggalan berita, lho.”
Narmi ingin ketawa.
Bukan hanya ingin melihat langsung bendanya, bahkan dia sudah ada niat untuk
meminjam. Dia yakin Nisah tidak akan sampai hati menolak. Dibanding tetangga yang
lain, dia paling akrab dengan keluarga Nisah. Daru dan Pardi, suami mereka, di
samping satu tempat kerja, juga selalu berpasangan bila ada pertandingan domino
di RT mereka. Dan menjadi partner tak
terkalahkan pula.
Suatu
saat butuh, pikir Narmi bersemangat, Nisah pasti mau meminjamkan.
***
Begitu
suaminya berangkat kerja, Narmi langsung menyeret sandal ke rumah Nisah. Nyonya
rumah berseru menyambut, “Aduh, kok baru datang, sih?”
Dari nada suaranya, Narmi
sudah bisa menebak bila ada sesuatu yang sangat istimewa yang akan
diperlihatkan. Dia memancing, “Memang ada yang baru, nih?”
“Ah, tidak juga.
Cuma....”
“Saya sudah dengar,
kok,” sela Narmi, kehilangan kesabaran. “Tetangga sudah pada membicarakan.
Pokoknya heboh, deh.”
“Ah, masa?” Tanpa bisa
ditahan, hidung Nisah kembang-kempis juga.
“Boleh, kan, saya ikut
melihat?”
Tiga menit kemudian,
barang itu sudah ada di pangkuan Narmi. Tersimpan dalam sebuah kotak kecil,
sebagaimana layaknya sebuah perhiasan. Ukuran kotaknya sedikit lebih besar dari
kotak perhiasan yang biasa dia lihat. Saat dia buka tutupnya, seruan takjubnya
meluncur tak tertahan.
Nisah tersenyum bangga
melihat raut takjub tamunya.
“Itu berupa bros, bisa
disematkan di baju kalau ke kondangan. Kayaknya lebih pas kalau disematkan di
kebaya,” papar Nisah antusias. “Kalau bosan memakainya sebagai bros, bisa juga
diubah sedikit, dijadikan liontin. Sebagai kepala kalung.”
“Oh, ya?” Mata Narmi
belum pulih dari belalak. “Pantas orang-orang menyebutnya laba-laba emas.
Bentuknya memang persis laba-laba.” Dia letakkan benda itu di atas telapak
tangannya. “Persis sekali!” sambungnya lagi. “Kalau semua laba-laba terbuat
dari emas seperti ini, orang-orang pasti berlomba memelihara laba-laba. Tidak
lagi mengomel karena sarangnya bikin
kotor langit-langit rumah.”
Keduanya terkikik-kikik
oleh guyonan itu.
“Enak, ya, punya
saudara di Brunei,” ujar Narmi. “Sampai dikirimi bros laba-laba emas seperti
ini. Uh, rasanya kepingin juga punya saudara di sana.”
“Ah, bisa aja, kamu,”
elak Nisah. “Itu bukan sepenuhnya pemberian, kok.”
“Maksud kamu?”
“Sebelumnya, saudara
saya itu hidupnya di sana susah juga. Kemudian kami ikut bantu-bantu. Ngasih tambahan modal, begitu. Nah,
setelah usahanya agak berhasil, dia lalu biasa kirim apa-apa kemari. Terakhir,
sekaligus yang paling mahal, ya, laba-laba emas itulah.”
Narmi manggut-manggut.
Dengan perasaan iri campur kagum, ditatapnya sekali lagi barang itu sebelum dia
masukkan ke dalam kotaknya. Keinginannya untuk meminjam makin meletup-letup.
***
Akhirnya
Narmi menemukan momen tepat untuk meminjam bros laba-laba emas itu. Dia datangi
Nisah pagi itu dengan wajah dibuat tertekuk memelas.
“Mau dipakai ke mana?”
selidik Nisah. Keningnya sampai berkerut mendengar permintaan tamunya.
“Kebetulan ada anak
sepupu saya yang mau menikah. Di acara ini nanti, banyak keluarga kami yang tinggalnya
jauh, bahkan ada dari seberang pulau, akan datang. Jadi, aduh, kalau tampil
seadanya rasanya tidak enak juga, sih,” Narmi berupaya meyakinkan. Tambahnya
kemudian, “Sekali ini saja, deh.”
Nisah memang bangga
bros laba-laba emasnya dikagumi orang, tapi kalau sampai dipinjamkan, hatinya
jadi berat juga. Baginya barang itu amat istimewa. Di samping karena kiriman
dari luar negeri, dia yakin belum ada tetangganya yang punya perhiasan serupa
itu. Namun, sikap ngotot Narmi membuatnya luluh.
“Saya jamin, Nis, bros
itu akan saya jaga baik-baik. Boleh, ya? Sekali ini saja, deh.”
Akhirnya Nisah melepas
bros laba-laba emas itu dengan perasaan berat.
***
Tergesa
mengambil
jalan pintas melewati padang ilalang yang menuju ke rumah Nisah, kaki Narmi
tiba-tiba tersandung. Benda yang ada di genggamannya terpental, meluncur ke
dalam semak. Tubuh Narmi ikut tersungkur, tertelungkup di atas rumput tinggi
yang nyaris menutupi tubuhnya.
Sesaat dia merasa
pening, dan tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Kala berusaha berdiri,
tubuhnya dia rasakan menegang. Dia teringat: benda yang tadi terpental dari
genggamannya itu, adalah bros laba-laba....
Narmi panik. Disisirnya
semak-semak di sekitarnya. Dia pelototi setiap sela batang ilalang untuk
mencari benda itu. Namun, sampai matanya perih melotot dan tangannya pegal
menyisir, benda itu tidak juga kelihatan. Narmi tengadah. Matahari nyaris tepat
di atas ubun-ubun, membuat kepalanya serasa mendidih.
Dia berusaha mencari
sekali lagi, tapi hasilnya tetap nihil. Merasa tidak kuat lagi menahan panas di
atas kepalanya, merasakan pula penglihatannya berpendar dan mulai berputar,
akhirnya dia memilih meninggalkan tempat itu, tersaruk-saruk berjalan sampai di
rumah Nisah.
Melihat wajah pasi dan
gemetar tamunya, jantung Nisah sontak berdegup keras. Dia langsung menebak
sesuatu telah terjadi pada laba-laba emasnya.
Setengah panik, Narmi
bercerita berbalut tangis. Belum usai menceritakan kejadian yang dialaminya,
Nisah sudah mengajaknya kembali ke lokasi jatuhnya laba-laba emas itu.
“Kenapa sih, bisa
sampai jatuh?” keluh Nisah ketika sampai di tempat kejadian. Terkesan dia lebih
panik menyibak lebat ilalang, degup jantungnya yang tidak juga kembali normal mulai
menyesakkan napasnya.
Sambil ikut mencari, Narmi
mengulang lagi kejadian terpentalnya benda itu. Namun, cerita berulang itu tidak
sepenuhnya masuk ke kuping Nisah. Sesuatu lebih menyita perhatiannya; dia melihat
benda itu terselip di rimbun semak, berkilau kekuningan tertimpa sinar
matahari. Bros laba-laba emas! Melihatnya, di kepala Nisah meletik sebuah ide.
Ide itu datang seperti
bandul yang terayun, mengikuti ayun gerak semak yang diembus angin, masuk ke benaknya.
Kemudian serupa gerak tangan pesulap, bros itu dia raup dan langsung masuk ke
balik blusnya. Narmi tidak melihat karena lebih sibuk dengan upayanya terus
mencari.
Dalam hati, Nisah
bersorak senang. Bros laba-laba emasnya sudah kembali! Dan ini akan menjadi
momen bagus untuk memberi pelajaran pada Narmi agar tidak meminjam lagi bros
itu.
Kian yakin dengan idenya,
seraya mengatur ritme napas karena merasa amat bersemangat, Nisah berujar,
“Sudahlah, Nar. Kalau memang nasibnya hilang, ya mau bilang apa lagi.”
Merasa tidak enak,
buru-buru pula Narmi menukas, “Tidak, Nis, saya harus bertanggung jawab.”
“Mau mencari terus?” pancing
Nisah. “Sampai kapan? Hh, coba rasakan, matahari panas begini ... ayolah, kita
kembali ke rumah.” Menatap wajah Narmi yang terlihat memelas, Nisah mengulang,
“Sungguh, Nar, saya ikhlas. Lagi pula, masa mau dicari terus sampai sore?”
“Saya akan
menggantinya, Nis.” Narmi mengekori langkah Nisah, suaranya seperti sendat
tangis. “Menurutmu, mm, berapa kira-kira harganya?”
“Kan sudah saya bilang,
saya ikhlaskan. Saya serius, Nar. Sudah, jangan dipikirkan lagi.” Senyum
kemenangan di wajah Nisah melebar.
***
Bros laba-laba
itu memang tidak akan pernah lagi ditemukan Narmi. Benda itu telah kembali ke
dalam kotaknya, dan tersimpan rapi di dalam lemari.
Nisah
merasa sangat senang. Ketika laba-laba emas itu tiba di rumahnya, ibu-ibu
tetangganya heboh dan datang terkagum-kagum melihatnya. Nisah merasa amat
tersanjung. Sekarang, atau sebentar lagi, berita hilangnya benda itu akan
menyebar pula dengan cepat, dan tentu dilengkapi tambahan informasi bahwa
pemiliknya mengikhlaskan saja benda semahal itu hilang. Tanpa ganti rugi. Nisah
yakin, sanjungan padanya makin menjadi-jadi, akan dibincangkan sebagai orang
bijak yang murah hati.
Nisah
merasa, si laba-laba emas itu memang
ajaib!
***
Sepertinya
ada yang aneh: udara di dalam kamar terasa amat dingin. Saat menyadari suaminya
masih terlelap di sampingnya, Nisah terlonjak duduk. Ternyata jendela kamar
dalam keadaan terpentang lebar!
Mengucek mata, lalu
menatap nanar ke arah pentang jendela kamar, terlihat di luar belum terang
tanah. Baru jelang subuh. Menyadari ada yang tidak beres, Nisah langsung
teringat bros laba-laba emasnya. Dengan panik, dia buru-buru turun dari tempat
tidur, lalu meraih pintu lemari pakaian. Matanya menjegil, nyaris membeliak.
Kunci lemari sudah terbongkar bekas dicungkil.
Tangannya gemetar
memeriksa tempat perhiasannya. Kekhawatirannya terbukti: bros laba-laba emas
itu tidak ada di tempatnya!
“Paaak, banguuun ... pencuriii....”
pekiknya. “Bros laba-laba emasku hilang....”
Suaminya terlonjak pula
dari tempat tidur. Sejenak menenangkan diri karena disentak pekik istrinya, dia
buru-buru menyergah bingung, “Apa? Bros laba-laba emas? Lho, kemarin kamu bilang
bros itu dihilangkan Narmi?”
Nisah tidak mendengar
lagi suara suaminya. Dia sudah melorot jatuh di depan lemari. Pingsan.***
Cerpen ini diterbitkan pertama kali di
tabloid: NOVA, no. 496/X –
Agustus 1997


0 Response to "Laba-Laba Emas"
Posting Komentar