Primadona Belah Pinang

( cerpen remaja )
            Saat siulan Fakih terdengar diulang-ulang, Todi tahu hati sahabatnya sedang riang yang tak biasa. Todi hapal betul kebiasaan itu. Fakih sudah ber’fiu-fiu’ sejak sebelum masuk kamar mandi, selama mandi, juga setelah mandi. Ketika menuju ke beranda, siulan itu malah makin menjadi-jadi.
Todi menanggalkan tatapan dari kisah Trio Detektif yang menangani perkara singa gugup, dan berujar, “Ada kabar seru, ya?”
Bulat bibir Fakih baru berhenti bersiul, menyusul suaranya, Akan makin seru bila kamu mau ikut terlibat.” Tangannya menggosokkan handuk kecil pada rambutnya yang basah. “Berminat?”
          “Terlibat apa?”
          “Ada cewek yang mengaku penggemar berat cerpen-cerpenku. Namanya Riani. Tadi pagi aku menerima surat dan fotonya. Face-nya cantik, dengan delik bola mata asyik ditatap.”              
“Kamu lihat bola matanya mendelik?”
Pose di dalam fotonya, bego.”
Todi terbahak. “Lalu?”
“Aku mau melibatkanmu dalam sebuah permainan yang ... pokoknya amat seru!”
 “Mempermainkan gadis itu?” lotot Todi ke arah sahabatnya, sebelum meletakkan buku yang sejak tadi dia baca.
          “Tidak sepersis itu. Lebih cocok disebut kita akan bermain seru-seruan dengan si Riani itu.”
          Sejenak Todi merenung. Merasa penasaran, dia mengajukan syarat, “Boleh, asal tidak sampai menyakiti hati anak orang.”
          “Cie, sok ustaz kamu.” Fakih tertawa tipis. “Permainannya begini.…” Lalu Fakih menjelaskan detail permainan yang dia maksud. 
          Tawa Todi ikut riuh. “Pantas siulmu tidak mau berhenti.” Tangannya menabok kepala sahabatnya. “Oke, job ini aku ambil.”
***
          “Riani ada?”
          Melihat wajah cantik di depannya malah terheran-heran, Todi segera merutuki kebodohannya. Uh, tentu inilah si Riani itu! Harusnya dia mengamati dulu wajah di depannya; bahkan kalau perlu buka fotonya, amati dengan saksama, baru bertanya.
          Aku Riani.”
          Nah! Pengakuan itu membuat kaki Todi mundur selangkah.
          Menenangkan rasa kaget, Todi cepat berkelit, “Kebetulan, kalau begitu.” Disodorkannya jabat tangan. “Aku Fakih Aramandatu.”
          Kemudian Todi merasa ingin pingsan berdiri melihat reaksi cewek di depannya. Di suratnya dia mengaku penggemar berat, tapi reaksinya kok cuma nyengir-bebek mendengar nama cerpenis idolanya disebut? Padahal Todi sempat menduga, begitu nama itu dia sebut, maka cewek di depannya akan terpekik girang, melompat memeluk, lalu mencium pipinya....
“Kamu tidak ingat nama itu?” Todi meregukkan jakun. Merasa kata-katanya kurang tepat, cepat dia perjelas, “Maksudku, masak nama Fakih Aramandatu tidak kamu kenal? Nama itu, kan....”
          Oh iya, aku ingat, aku ingat.”
Jawaban terkesan ragu itu, membuat Todi berusaha mengingat kembali isi surat Riani kepada Fakih. Tertulis jelas bahwa dia sangat mengagumi cerpen-cerpen Fakih Aramandatu, dan ingin bertemu langsung dengan sang pengarang pujaan. Dia pun bilang semua cerpen karya Fakih Aramandatu di majalah telah dia baca, bahkan ada yang dibaca berkali-kali. Eh, begitu ketemu, reaksinya malah sehambar ini?
“Yang tukang ngibul itu, kan?
          Bola mata Todi serasa akan terlepas dari kelopaknya. “Kenapa dibilang tukang ngibul?”
          Cerpen kan isinya cuma ngibul. Jadi pengarangnya, ya tukang ngibul, dong.
          “Siapa bilang!” Todi benar-benar ingin marah. Intonasi suaranya sontak meninggi. Sewot dia menjelaskan, “Cerpen bukan hasil kibul-kibulan pengarang. Memang cuma fiktif, tapi banyak juga yang ceritanya diangkat dari kisah yang benar-benar ada.” Susah-payah dia mengingat penjelasan seluk-beluk cerpen dari Fakih semalam, sebagai bekal menghadapi fans ini. “Dan di dalam cerpen, ada terselip nilai-nilai moral, nilai-nilai kebaikan.”
          Daripada kamu ngasih kuliah materi cerpen di depan pintu,” cewek di depannya melebarkan senyum, yang di mata Todi, terlihat sangat manis,bagaimana kalau kamu menjelaskan saja di dalam?”
***
          “Kalau semua pembaca cerpenmu, yang mengaku-ngaku fans modelnya seperti Riani itu, sebaiknya kamu tidak usah punya fans.”
          Fakih mengalihkan perhatian dari huruf-huruf yang sedang dia ketik. Dia menoleh, senyumnya melebar melihat betapa masam paras sahabatnya.
          “Cantik, kan, seperti di fotonya?” Fakih memutar kursi.
          Cantik nian!” hentak Todi. “Tapi bikin tensi naik!”
          “Hei, memang kenapa?”
          Nyata sekali dia tidak tertarik ngomongin soal cerpen. Aku sudah megap-megap menjelaskan soal teknik menulis, penggambaran watak tokoh, setting, plot, dan semua tetek-bengeknya seperti yang pernah kamu ceramahkan padaku, eh, dia malah ngomong soal lain. Mulai dari latihan tari, nonton bola, bahkan sampai cara memelihara tanaman bonsai.”
          Tawa Fakih kian panjang. “Kamu ceramahi pula dia soal cerpen, tanpa dia minta?”
          “Supaya dia yakin, seyakin-yakinnya, bahwa aku ini Fakih Aramandatu.”
          Bisa jadi, dia malah mencurigaimu Fakih gadungan,” pintas Fakih. “Ada orang yang mengaku pengarang cerpen, tanpa diminta langsung menjelaskan panjang-lebar soal cerpen. Artinya, orang ini ingin sekali dianggap pengarang cerpen. Sejatinya, pengarang betulan tidak akan mengiba-iba begitu agar dianggap pengarang.” Fakih mematikan semangat sahabatnya. “Kalau si Riani itu cukup jeli, maka dia akan berpikir begitu.”
          Todi membanting kepalanya di tempat tidur.
          “Aku saja yang menemuinya,” putus Fakih kemudian.
          Todi melompat kembali dari pembaringan. “Jangan, oh, jangan!” serunya. “Dia terlalu cantik untukmu, Kih. Jangan secepat ini membuatku patah hati!”
***
          Girang hati Todi membuncah. Begitu turun dari sadel motornya, dia berlari ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu. Saking girangnya, sampai tidak sadar gegas kakinya telah tiba di dapur.
          “Bu, Fakih ke mana?”
          Wanita paruh baya di depannya terkejut.
          “Aduh, Nak Todi, bikin jantung Ibu hampir lepas.” Mamanya Fakih memegangi dadanya. “Memang tidak mampir di rumahmu?”
          “Entahlah, Bu. Soalnya sejak pulang kuliah siang tadi, hampir sesorean aku mengantar teman….”
          Kalimat Todi terpenggal. Teriakan Fakih berselang-seling siulan terdengar dari ruang depan, membuat Todi yakin girang hati sahabatnya lebih dahsyat darinya.
          “Heh, ternyata kamu tidak pernah bertemu Riani!” pekik Fakih saat keduanya hampir bertabrakan di ambang dapur. “Dia bilang tidak pernah bertemu kamu.”
          Girang Todi menguap. Tanyanya bingung, What?”
          “Riani bilang tidak pernah ketemu kamu,” ulang Fakih, tidak memedulikan mulut Todi yang menganga bingung. “Dan buktinya, dia amat tertarik dengan dunia menulis. Bahkan minta waktu khusus diajari menulis cerpen. Atau, jangan-jangan....”
          Jangan-jangan apa?”
          Yang kamu temui itu pembantunya, dan mengaku-ngaku sebagai Riani?”
          Tubuh Todi terenyak ke jok kursi. Girangnya habis, berubah bingung yang serasa membekap isi kepalanya.
          “Riani itu jauh lebih cerdas dari kita,” keluhnya. “Kamu bilang kita akan mengecohnya? Malah dia yang mengecoh kita!
          “Jadi, kamu serius, pernah bertemu?”
          “Sungguh, Kih, aku bertemu dengan dia, di rumahnya!” Todi berusaha meyakinkan. “Asal foto yang kamu berikan itu memang benar foto dia, dan bukan foto pembantunya!
          Keduanya saling tatap. Bingung. Cukup lama, sebelum tawa mereka meledak berbarengan.
          Dan yang paling aneh,” Todi teringat sesuatu, “kalau kamu serius dengan pengakuanmu bahwa kamu baru saja bersama dia; siapa pula yang aku temani tadi makan rujak di sudut alun-alun? Yang mengaku Riani, cewek yang sama yang kutemui tempo hari di rumahnya?”
          Keduanya kembali saling tatap, kali ini tanpa ada yang mau tertawa.
          Eh, jangan-jangan, salah seorang dari kita memang telah jalan dengan pembantunya?” lesu suara Fakih.
          Mamanya Fakih muncul dari dapur, mengangsurkan dua cangkir susu coklat yang mengepul panas, seraya menyergah, “Kalian rebutan cewek, ya?” 
***
          Keduanya lalu sepakat bersamaan datang ke rumah Riani. Todi lebih dulu maju, dengan semangat menggebu-gebu memencet bel. Tiga kali, nyaris tanpa jeda. Dan tanpa meneliti wajah yang muncul dari balik pintu, dia langsung menerjang, “Mana Riani?”
          “Hai, Riani.” Fakih hendak menyalip maju, begitu mengenali wajah yang berdiri di depan mereka.
          Tersenyum saat matanya menatap ke arah Todi, cewek tuan rumah itu menyahut, “Eh, Fakih. Masuk, yuk.” Ajaknya, dengan wajah tetap menghadap ke arah Todi.
          Hampir saja Todi melompat girang. Dia merasa menang. Akhirnya dia bisa membuktikan di depan Fakih, bahwa ceritanya telah berkenalan dan bertemu Riani bukan bual. Sekarang dia yakin malah Fakih yang telah membual. Riani meliriknya hanya sekilas, artinya memang tidak mengenalnya!
          Saat diajak masuk, Fakih serupa orang linglung mengekor di belakang Todi. Kepalanya yang mendadak pening dia sandarkan di jok kursi ruang tamu. Dia yakin, seyakin-yakinnya, dan berani bersumpah hingga ke langit sekian lapis, bahwa cewek yang baru saja masuk ke ruang dalam itu adalah cewek yang pernah dia temui. Pernah jalan bersamanya! Anehnya, cewek tadi kelihatannya hanya mengenal Todi!
          “Survei membuktikan, dia tidak mengenalmu,ledek Todi sesenti dari kupingnya. “Survei juga membuktikan, ternyata kamu yang membual telah berkenalan dengannya.”
          Fakih kehilangan gairah membalas ledekan Todi. Mulutnya terkatup rapat, bingung sedang mengurung benaknya. Mulutnya tetap saja terkatup, bahkan kian merapat, sesaat dari ruang dalam muncul dua Riani....
          Otak Todi yang cepat pulih. Dia memekik, “Oh ... kenapa bisa kamu sampai jadi dua begini?”
          Cewek pertama, atau yang menemuinya di pintu tadi, lebih dulu menjawab, “Yang ini bayanganku, namanya Riani. Kalau aku, Riana.” Di sambut cewek kedua, atau yang ikut keluar tadi, “Dan ... maaf, aku telah mengibuli Fakih Aramandatu.”
          “Aku yang dikibuli,” Todi menyela, disusul tawa. “Yang datang pertama kali ke sini tempo hari itu ya aku, tapi mengaku-ngaku sebagai Fakih Aramandatu.” Kali ini tawanya meledak-ledak serupa petasan. “Tapi kalau dipikir-pikir, kayaknya kita sudah impas, deh.”
          “Impas bagaimana?” Salah satu dari cewek di depannya bertanya, dan Todi tidak bisa memastikan apakah dia Riani atau Riana. Soalnya sama persis!
          Waktu pertama datang itu, aku kan mengaku Fakih si pengarang cerpen. Padahal aku ini Todi ... oya, kenalkan: nama lengkap saya Sartodi Ambara; sedang yang diam melongo di sampingku ini bernama Fakih Aramandatu....”
Fakih segera mengadu sisi lututnya ke arah sisi lutut Todi, seraya ikut tertawa.
Tak henti-henti tertawa, Todi merasa perlu meneliti lebih saksama dua cewek di depannya. Sampai lama dia tetap tidak bisa memastikan yang mana Riani dan yang mana Riana, yang mana menerimanya ketika datang bertamu seraya mengaku sebagai Fakih, dan yang mana pula yang telah dibawanya makan rujak sore itu?
          Awalnya kami menyangka telah sukses mengibuli kalian,” salah seorang dari cewek itu menyela. “Ternyata, kalian pun sukses mengibuli kami.
          Seketika, ruang tamu diriuhi empat tawa lepas.
Kenyataan kalian ternyata kembar, malah bagus bagi kami.” Todi kian bersemangat menghamburkan ledak pikirannya. “Jadi, kami tak perlu lagi adu otot, adu bual, dan adu tos-tosan agar bisa jalan ... atau ... eh, memilih salah satu....”
          Siku Fakih segera tersodok ke rusuknya.
***
          ”Jadi, ending dari kejadian ini,” Todi mendekatkan wajah ke arah kertas yang baru dipasang Fakih di mesin tik,lahirnya sebuah cerpen. Dan, jangan lupa, aku harus ambil bagian. Eit, jangan menabok dulu! Kamu lupa, andai cewek itu cuma satu, artinya tidak kembar, maka bisa dipastikan aku yang akan dikorbankan?
          Dikorbankan bagaimana?” Fakih mengernyit.
          “Akan gigit jari sebagai orang yang tersisihkan.”
          Di sela tawa lepasnya, Fakih menukas, “Kita deal.” Dan sebelum Todi terheran-heran, lekas Fakih menjelaskan, “Idemu agar aku menulis kisah kita ini dalam sebuah cerpen, aku terima. Nah, kamu tadi bilang mau ambil bagian?”
          Beri aku bagian membuat judulnya,” ujar Todi penuh semangat. “Dengan demikian, berdasarkan aturan hak cipta, honornya tentu kita bagi dua.”
          Fakih mendelik. Seraya mengacungkan tinju, dia bertanya, “Apa judulnya?”
          “Primadona Belah Pinang.” ***
 (Cerpen ini diterbitkan pertama kali di majalah:  CERIA Remaja no. 24 / Mei 1991 , dan ikut dibukukan dalam Svetsna/Mecca Publishing, 2018).




    
    

0 Response to "Primadona Belah Pinang"

Posting Komentar