Cerpen Kakek Tentang Nenek


Menyambut enyak pantatku di kursi, Kakek langsung membuka ceritanya, “Seorang perempuan tua menjual dua cucunya. Dia menjualnya karena sangat sayang pada kedua cucunya itu.”
Di sela upaya mengatur aliran napas, aku tertawa. Kuhitung-hitung, sudah ada dua tahun Kakek menjadikan aku sasaran berondongan cerita-ceritanya. Setiap pulang ke rumah di akhir pekan, setengah memaksa ia mengajakku ke beranda untuk mendengarnya bercerita.
Sejak masih era mesin ketik Kakek sudah menjadi penulis cerpen. Cerpen-cerpennya telah tersebar terbit di banyak media. Walau isi kepalanya tetap aktif merangkai cerita, tapi hukum alam terus melayukan fisiknya, membuatnya dua tahun belakangan ini lebih suka melisankan cerpennya alih-alih menuliskan.  
Tanggapku kemudian, serupa protes, “Cucu yang disayang kok malah dijual? Kesalahan apa yang telah dilakukan kedua anak itu, sampai harus dijual?” 
Abai saja pada protesku, Kakek meneruskan ceritanya, “Cucu pertama dijual seharga seratus rupiah. Sedang cucu kedua, atau adik dari cucu pertama tadi, dijual dengan harga sebuah badik.”
Akhirnya mulai kupasang mimik serius. Seperti kebiasaannya, bila perhatianku mulai fokus, Kakek kian bersemangat pula. Ia pasti tidak tahu, saat sedang semangat bercerita begitu yang kutatap sebenarnya pampang gusinya yang kian kelam, dan geliginya yang kulihat terus saja berkurang. Entah berapa rupiah telah ia habiskan membeli tembakau untuk mengasapi isi mulutnya itu.
Kakek meraih tembakaunya. Ia berkata, “Baiklah, supaya tokoh ceritanya menjadi jelas, kita sebut saja si Kakak, si Adik, dan perempuan tua tentu kita sebut si Nenek,” decap Kakek. “Nenek itu bilang, kedua cucunya harus dijual agar takdir anak-anak itu menjadi lebih baik.”
Aku melongo. “Ini perdagangan anak?”
“Takdir si Kakak dan si Adik lahir dengan wajah sangat mirip bapaknya,” balas Kakek, melenceng dari maksud pertanyaanku. “Begitu mirip, sampai ketika mereka lahir, dengan selisih waktu dua tahun, si Nenek merasa bapak anak itulah yang seakan lahir kembali, sampai dua kali. Nenek itu tentu tahu, karena bapak anak-anak itu kan anaknya sendiri.”
Merasa cerpen lisan Kakek kali ini agak ngawur, aku protes lagi, “Kakek pernah bilang, cerita dalam sebuah cerpen mesti punya logika. Yang ini: apa hubungannya kakak-adik itu harus dijual hanya karena wajahnya sangat mirip wajah bapaknya? Anak ya memang mirip orang tuanya, dong.”
“Wajah si Kakak dan si Adik ini, bukan mirip wajah bapaknya, tapi nyaris sama persis. Seakan hasil fotokopi.”
“Hasil kloning kali,” gelakku.
Kakek ikut tertawa, memampangkan lagi isi mulutnya yang porak-poranda. “Saat cerita ini terjadi, teknologi kloning belum dikenal.” Gelak Kakek menghasilkan semburan asap yang bergelombang keluar dari mulut dan hidungnya.
“Ada mitos yang diyakini Nenek itu, bahwa anak yang sangat serupa dengan wajah bapaknya, dalam hidupnya cenderung mengalami banyak masalah, bahkan musibah. Malah bisa pula berusia pendek; baik pada si anak, maupun pada si bapak. Dan untuk mengelakkan ancaman seperti itu, ada tradisi yang juga diyakini kebenarannya oleh si Nenek, yaitu dengan cara menjual anak-anak itu kepada kerabat dekatnya.”
Kakek pasti tahu aku mulai pasrah saja mengikuti plot ceritanya, sehingga ia terus bercerita, “Si Nenek menjual cucunya kepada anaknya sendiri, atau paman dari anak-anak itu. Uniknya, atau malah anehnya, setelah dibeli, kedua anak itu tidak dibawa, tapi dititipkan kembali ke orang tuanya untuk dibesarkan.”
Mengelak dari kantuk mendengar cerita Kakek, daripada cuma diam melongo aku menyela, “Bagaimana reaksi anak-anak itu, Kek, ketika tahu dirinya dijual?”
“Yang sedih adalah si Kakak, saat tahu harga jualnya sangat murah, cuma seratus rupiah. Si Adik meledeknya, karena uang seratus rupiah itu hanya bisa membeli sepiring ubi goreng, atau bisa juga empat buah jagung bakar,” kekeh Kakek. “Dua puluh tiga tahun kemudian setelah kejadian jual-beli itu, badik yang dulu dipakai membeli si Adik, harganya malah melonjak tinggi. Seorang kolektor menilai badik itu istimewa, punya nilai sejarah, lalu menawar dengan harga sembilan puluh tujuh juta. Begitu tahu lonjak harganya, si Adik ngotot membujuk Nenek untuk melepas saja badik itu ke pembeli tadi. Kabarnya sih, badik itu akan dijadikan cendera mata kepada seorang pejabat, kolega kolektor tadi.”
“Oya, saya berharap, kamu nanti yang menulis cerpen ini. Saya ingin kamulah yang mewarisi kemampuan saya menulis cerpen.” Mendadak kulihat gurat kisut wajah Kakek dikurung murung. “Keunikan kejadian itu yang membuat saya menulis cerpen ini ... eh, bukan menulis, tapi menceritakan pada kamu.” Lalu sejenak termangu, sebelum menyahut dalam sendat, “Juga, kenangan yang belakangan ini makin kuat, pada si Nenek....”  
Belum terpikir mengiyakan, masih bingung menilai perubahan mendadak di wajah Kakek yang sebelumnya amat ceria, sesuatu terletik mengusik pikiranku, membuatku menyela, “Memang tokoh si Nenek itu, ada?”
“Dia nenekmu....”
Sontak aku melongo. Dalam telikung bingung, aku berujar, “Jadi si Kakak dan si Adik, juga tokoh nyata?”
Tawa Kakek pelan pulih. “Si Kakak itu kamu, dan si Adik ya Ancu, adikmu.” Berjeda mengisap tembakaunya, menyemburkan asapnya dalam ujar, “Yang membeli kamu adalah pamanmu Biding, sedang adikmu dibeli pamanmu Unding.”
Sebelum gelak kami saling-adu dalam bening udara sore, sempat aku berseru, “Ouw, ternyata ini kisah nyata!”
“Tidak semua cerpen fiktif, bisa saja nyata,” dalih Kakek.
“Dan sedihnya ya, Kek,” ujarku, masih di sela tawa, “harga jual Ancu nilainya melonjak tinggi, sedang hargaku yang seratus rupiah itu; aduh, sekarang pun, uang seratus rupiah bisa beli apa?”
Kakek terus terkial-kial. Teringat sebuah cerobong pabrik saat asap tembakau menyembur dari lubang hidung dan mulutnya. “Semoga jalan hidupmu, seperti yang diniatkan nenekmu ketika menjualmu dulu, bisa sejalan dengan harapan nenekmu itu.”
        “Aamiin.” Tak kuasa mengelak, aku jadi terharu juga. “Saya jadi paham, Kek, proses jual-beli itu berarti cuma simbolik. Eh, yang saya pikirkan, siapa yang menentukan besaran harga saya dan harga adik saya itu?”
        “Karena transaksi jual-beli unik ini berasal dari keyakinan nenekmu, maka harga-harga jual itu pun ditentukan olehnya.”
Entah sudah berapa cerita Kakek yang dilisankan kepadaku. Memang pernah kuduga ia ingin aku menuliskan cerita-ceritanya setelah ia lisankan. Hanya saja, di samping tidak cakap menulis cerita, otakku juga sudah lelah digerus pekerjaan kantor. Setiap Kakek memaksaku mendengar ceritanya, selama ini kuanggap cuma hiburan. Namun, karena kulihat Kakek amat serius menginginkan aku menuliskan cerita ini, apalagi kisah nyata masa kecilku, akhirnya aku asal mengangguk saja.
Terbit pula ide dadakan di benakku. Aku yakin ini akan membuat mata tua Kakek menjegil bila ia membacanya. “Baik, Kek, akan saya coba,” kataku. “Tentu Kakek mesti edit dulu, sebelum dikirim ke media.”
Sedikit bergetar, jempol Kakek terangkat. “Tulislah cerita yang paling kamu tahu, atau malah kamu alami sendiri,” bilang Kakek, sedikit berteori.
Tidak kuungkap ide dadakanku. Biarlah Kakek nanti tahu saat membacanya. Akan kutukar kejadiannya: adikku yang dibeli seratus rupiah, dan aku yang dibeli dengan sebuah badik, yang harganya kelak meningkat berlipat-lipat itu. Enak saja aku cuma dihargai seratus rupiah, yang nilainya sekarang, bocah pengemis saja tidak sudi menerimanya. ***                                                                Parepare, Nov. 2018
(Cerpen  ini dimuat pertama kali di tabloid:  MINGGU PAGI, Yogya, Minggu I, 7 Desember 2018.)

0 Response to "Cerpen Kakek Tentang Nenek"

Posting Komentar