Selamat Datang Cinta
(Cerpen Remaja)
Aku terperangah begitu melihat wajah yang ada di depanku. Oo, jadi
seperti inilah sosok Bang Beng?
Uih, sederet makhluk kece pujaan
warga dunia sebangsa Brad Pitt, atau Jason Priestley, ataukah si Keanu Reeves,
ternyata poinnya jauh di bawah Bang Beng. Akan ada saja ketaksempurnaan mereka.
Kalau tidak pada rambutnya yang kepirangan, kulitnya yang kebulean, tentu matanya
yang kebiruan kayak rabun. Sedang Bang Beng.... Waw! Rambutnya ikal legam, matanya
hitam kelam, alisnya nyaris bertaut ... poinnya benar-benar sempurna!
“Hai.” Dia mengacakan telapak tangannya
ke arahku. “Kau pasti Ena.”
Nah, dia tahu namaku! Nyaris
saja aku melonjak riang kalau tidak cepat menyadari baru kali ini kami bersua.
Kalau sampai itu aku lakukakan, seperti apa kesan dia pada aku nanti?
Masalahnya, orang bilang kesan di
awal perjumpaan itu sangat berarti.
“Kok tahu namaku?” Aku tersipu.
“Soalnya, kau mirip betul dengan
kakakmu. Semoga bukan kloningnya dia, deh.”
Aku tertawa.
“Oya, Ella ada, kan?”
Tawaku terpenggal. Tersadar
bahwa kedatangannya kemari bukan untuk aku, tapi untuk kakakku. Ah, kenapa pula
tadi aku yang begitu bersemangat, sehingga saat bel berning-nong dan menebak yang
datang itu orang yang bernama Bang Beng, justru aku yang berlari membuka pintu?
“Lho, ditanya kok malah bingung?
Hoi, hoi!” Bang Beng mengggoyangkan telapak tangannya di depan mataku.
Harusnya aku tertawa oleh
ulahnya. Namun, entah kenapa aku malah merasa kehilangan gairah.
“Kak Ella masih dandan,”
akhirnya aku menyahut, itu pun setelah membalik badan.
“Kau boleh lapor ke dia, bilang yang
ditunggunya telah mendarat dengan selamat.”
Aku menjauh, menuju ruang dalam.
Tak kusilakan dia mau duduk atau tetap berdiri saja di ruang tamu.
***
Aku sedang ‘tidur-tidur ayam’ ketika Kak Ella muncul. Dia pasti
melompat, sehingga sofa yang aku telentangi berkeriut. Tentu dia sangat senang.
Gembira sekali!
“Bagaimana tanggapanmu tentang
dia?”
“Dia siapa?” Aku pura-pura
dungu.
Kak Ella manyun. Dia mematikan
suara Braxton dari compo, lalu memekik, “Bang Beng! Ganteng, kan?”
“Nenek pikun juga tahu dia ganteng.”
“Sip. Berarti aku tidak asal
comot.”
Mendadak aku punya pikiran lain.
“Tapi....”
“Tapi apa lagi? Kurang tinggi? Heh,
dia satu tujuh lima, lho. Untuk ukuran Indonesia, itu sudah tinggi.”
Lagi-lagi sofa berkeriut. Kali
ini aku yang menggelinjang.
“Soal tingginya, sih, malah
tinggi banget. Apalagi kalau untuk aku.” Sejenak aku tertegun. Kok untuk aku?
“Jadi, apanya yang tapi?”
“Dia ...,” lagi-lagi aku
terteggun, sebelum melanjutkan, “dia kelihatannya baik. Malah kesanku, dia itu
orang yang sangat baik.”
Kak Ella mengakak. “Itu sih bukan
tapi,” serunya di sela ngakaknya. “Itu namanya nilai tambah.”
“Nah, karena itu dia tidak
pantas diplonco lagi.”
Ngakak Kak Ella langsung padam.
“Eh, sekali ini, tidak lagi, deh.” Dia memencet hidungku. Untung tidak berbunyi
‘toet’ seperti klakson. Lanjutnya, “Yang ini aku serius banget. Sangat bersungguh-sungguh!”
Aneh; pengakuan Kak Ella barusan
malah membuatku berkecil hati.
***
Aku selalu teringat bagaimana Kak Ella memakai kata ‘plonco’ untuk
cowok-cowok yang dipermainkannya.
Ketika Kak Taufik tidak pernah
lagi muncul di rumah, saat ditanya enteng saja Kak Ella menjawab, “Ah, Taufik
itu kan cuma aku plonco saja.” Padahal sebelumnya, Kak Taufik itu sangat rajin mengapeli
Kak Ella. Lalu Mas Anang yang rajin mengantarnya pulang kuliah, dan kini tidak
pernah lagi kelihatan, Kak Ella juga bilang, “Anang itu aku plonco saja.”
Kemudian Daeng Enal katanya juga cuma dia plonco, sampai tidak pernah lagi menampakkan
wajahnya. Yang membuatku ikut sedih, karena Kak Almy pun, yang seisi rumah tahu
kalau mereka pacaran sejak kelas dua SMA, bahkan sudah pernah mengajak
tunangan, eh dianggapnya pula cuma dia plonco. Kak Almy diplonco sampai lebih
tiga tahun!
Dan mungkin masih ada daftar
nama cowok lain yang telah Kak Ella plonco, tapi aku tidak kenal, sebelum tiba
pada nama Bang Beng.
Nama itu pertama kali Kak Ella sebut,
ketika di suatu senja dia nyelonong ke kamarku tanpa permisi. Dan seperti
biasanya, tidak lupa memencet hidungku.
“Mau dengar cerita tentang Bang
Beng?” tawarnya. Dan tanpa persetujuanku, Kak Ella langsung melanjutkan, “Dia
makhluk paling kece di Fakultas Ekonomi.”
Seraya tertawa, aku menyergah,
“Eh, aku kira tadi nama pelawak. Ternyata ...,” sejenak aku berjeda,
menilai-nilai paras Kak Ella yang sepertinya begitu bersemangat bercerita
tentang Bang Beng ini, “nama cowok calon diplonco lagi, ya?” Lalu aku buru-buru
berkhotbah, “Kasihan cowok-cowok yang diplonco itu, sampai mirip banteng yang
bergiliran untuk ditaklukkan.”
Kak Ella tertawa menanggapi. Dan
itulah pertama kali aku mendengar nama Bang Beng beredar di rumah ini; untuk
selanjutnya, hampir setiap pulang kuliah ada saja cerita Kak Ella tentang Bang
Beng.
Lalu tibalah pada hari yang
tidak pernah aku duga. Bang Beng menelepon. Karena Kak Ella sedang keluar, maka
aku yang menerima teleponnya. Ah, mengobrol dengan Bang Beng ternyata sangat
menyenangkan.
Itu awal dari rasa senangku bila
Bang Beng menelepon. Dan selalu saja Kak Ella tidak di rumah bila telepon Bang
Beng berdering. Akhirnya, entah kenapa, selalu saja aku berharap lebih baik Kak
Ella sering-sering saja tidak di rumah, agar bila Bang Beng menelepon, aku lagi
yang angkat dan mengobrol dengannya.
Ketika Bang Beng menelepon akan
datang ke rumah, malah aku yang merasa tegang menunggunya. Itulah kenapa aku
begitu bersemangat ketika Bang Beng benar-benar datang; sehingga saat bel
berning-nong, malah aku yang berlari membuka pintu. Padahal, ah, dia datang bukan
untuk aku, tapi untuk kak Ella.
***
Kuakui, yang terjadi pada diriku bisa jadi aneh. Aku resah melihat
Kak Ella makin akrab dengan Bang Beng. Aku merasa iba bila Bang Beng, di suatu
saat nanti, akan merasakan pula ploncoan dari Kak Ella walau Kak Ella telah
mengaku Bang Beng adalah yang terakhir baginya, dan dia ingin serius dengannya.
“Berarti kau cemburu,” urun
pendapat dari Utari, ketika aku menceritakannya.
“Bukan cemburu, ah,” elakku. “Cuma
kasihan bila Bang Beng menjadi permainan Kak Ella lagi. Masak sih, aku
mencemburui kakak sendiri?”
“Cemburu tidak mengenal saudara,
Ena. Namanya juga cinta itu buta. Karena buta, mana bisa membedakan mana saudara
mana bukan?”
***
Aku takjub ... bukan, lebih tepatnya terpana ... ah, lebih cocok
kalau aku sebut kaget. Kaget dan berdebar-debar. Bang Beng sampai berkata
begitu?
“Maksud Bang Beng?”
“Kita memang merasa saling
menyukai,” tutur Bang Beng lagi. “Seperti yang aku bilang tadi; aku malah
merasa lebih cocok dengan kamu. Aku merasa lebih menyukai kamu. Dan tidak aneh,
kan, kalau besok aku malah jatuh cinta pada kamu?”
Di atas kepala kami langit
cerah. Geriap angin sore begitu bersahabat di kulit. Namun ... entah kenapa,
aku malah merasa gerah. Serasa di dalam kepalaku ada gulungan benang bertumpuk
kusut.
Kejadiannya bermula ketika Bang
Beng datang dan Kak Ella belum pulang. Saat aku menyambutnya, “Kak Ella belum
pulang. Mungkin mampir di sanggar senamnya....” Dan Bang Beng malah menyergah,
“Aku datang bukan mau ketemu kakakmu, kok, tapi mau ketemu kamu. Aku mau
mengajakmu jalan-jalan. Ada yang ingin aku katakan.”
Walau aku suka, dan mulai pula
berdebar-debar, tapi ketika Bang Beng mengatakannya, tetap saja membuatku
takjub, eh terpana ... ah, lebih tepatnya: kaget!
***
Aku tidak tahu bagaimana mengurai tumpukan benang kusut di dalam kepalaku.
Aku ingin bercerita saja pada Kak Ella, berterus terang bahwa aku dan Bang Beng
merasa saling mencintai pula. Namun aku berpikir ini bisa berakibat buruk: Kak
Ella bisa kecewa, atau malah marah. Soalnya, dia pernah mengatakan dia sudah
ingin serius dengan Bang Beng. Jadi sebaiknya menyembunyikan saja masalah ini?
Ah, yang ini pun kupikir tidak tepat: berarti aku telah menyeleweng dari kakakku
sendiri.
Benar-benar benang kusut!
Ini membuatku tidak ingin keluar
kamar. Aku khawatir berpapasan dengan Kak Ella, dan tanpa sadar aku nanti
menceritakannya. Atau.... Masih sibuk mengurai benang kusut di dalam kepalaku itu,
tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Kak Ella menyerobot masuk. Hampir saja aku
terpekik.
“Aku kira hantu....” Kuredakan
rasa kaget seraya mengamati ‘topeng’ masker yang belepotan membungkus wajah Kak
Ella. “Untuk apa pakai begitu? Tidak biasanya....”
“Ingin terlihat lebih cantik di
mata Bang Beng.”
Deg! Terasa jantungku meledak.
Entah, mungkin parasku pun sudah memucat tiba-tiba.
“Wajar, dong, kalau kita ingin
terlihat lebih cantik di depan cowok yang kita cintai,” tambah Kak Ella lagi. “Kelak,
kalau kau juga sudah punya cowok, pasti juga merasakannya.”
Belum juga aku mampu menemukan
kata apa yang cocok untuk kuucapkan, Kak
Ella menambahi lagi, “Tapi tunggu jadi mahasiswi dulu. Kelas satu SMA seperti
kau belum boleh punya cowok. Belum boleh pacaran.”
Jantungku tidak lagi meledak,
tapi mengisut; terasa mengkeret mengecil.
“Untuk apa Kak Ella ingin
terlihat lebih cantik?” Akhirnya kutemukan suaraku kembali. “Bukankah ...,”
sejenak ragu, menimbang-nimbang, sebelum meneruskan, “cowok bagi Kak Ella cuma
ploncoan saja?”
“Oo, yang ini tidak.” Kak Ella
duduk di depan cermin. Dia memang selalu lebih suka mematut-matut wajahnya pada
cermin di kamarku, karena lebih lebar dan lebih bening. “Bang Beng lain. Dia
yang terakhir. Aku serius dengan dia.”
Tak dapat kutahan, segera kututupi
wajahku dengan bantal. Bahkan andai bisa, aku ingin menghilang saja dari kamar
ini....
“Eh, kau kenapa?”
Aku dengar suara Kak Ella. Tentu dia
menoleh menatapku.
“Aku takut....” Setelahnya, aku
kaget sendiri dengan kata-kataku. Buru-buru kutelan lanjutannya: takut pada kenyataan, aku pun telah jatuh cinta
pada Bang Beng....
“Takut apa?”
Segera tersadar, buru-buru kubelokkan
kalimatku, “Takut melihat orang yang pakai masker....”
***
Aku terperangah. Hh, entahlah, belakangan ini aku kok terlalu
sering terkaget-kaget sendiri. Apalagi demi melihat sosok Bang Beng ada di
depan gerbang sekolah!
“Bang Beng!” akhirnya aku
terpekik juga. “Kok ada di sini?”
Bang Beng mengembangkan senyum, senyumnya
yang sarat pesona. “Mau jemput kamu.”
Keningku mengernyit. “Mau ke
mana?”
“Makan siang, terus ... mau
ngomong sesuatu.”
Bang Beng datang bawa mobil. Sengat
panas di tepi jalan membuatku tidak lagi menimbang, segera kusurukkan tubuh ke
jok depan.
“Aku pernah bilang, mungkin
besok aku jatuh cinta pada kamu,” ujar Bang Beng, sesaat setelah dia menginjak
gas. “Dan besok yang kumaksud, ya hari ini. Aku tidak kuat menunggu sampai kau
jadi mahasiswi, aku takut keburu tua untuk jatuh cinta.”
Kuabaikan guyonnya, buru-buru
menyergah, “Bang Beng lupa ya, kalau ada Kak Ella? Dia mencintai Bang Beng,
lho.”
“Siapa bilang?”
“Dia yang bilang.”
“Dan kau percaya?” Bang Beng
tertawa. “Ella itu tidak pernah serius dengan cowok. Menurut temannya, Ella itu
hanya menjadikan cowok sebagai ploncoan saja. Di kampus, antrian mantannya cukup
panjang, dan bisa jadi terus nambah.”
Aku termangu. Panas permukaan
jalan di depan sana memendar, memunculkan bayang-bayang mengilat. Kutatap bias
panas matahari itu dengan pikiran melayang entah ke mana.
“Pacaran bukan untuk main-main,
apalagi sampai memplonco orang. Itu bikin orang sakit hati, lho. Jadi....”
Kepalaku menyandar ke jok. Mata kupejamkan.
Sepertinya aku tidak mendengar lagi kalimat-kalimat Bang Beng. Wajah Kak Ella
terus melela. Rasanya aku ingin menangis; ah, mungkin pula tertawa. Jadi,
sekali ini Kak Ella yang akan merasakan diplonco oleh cowok? Dan justru cowok
itu adalah Bang Beng, cowok idolaku, yang siang ini sepertinya akan menjadi pacarku....***
(Cerpen ini diterbitkan pertama kali di majalah: ANITA Cemerlang, no. 21 - th.18 – Agustus 1997)
(Cerpen ini diterbitkan pertama kali di majalah: ANITA Cemerlang, no. 21 - th.18 – Agustus 1997)


0 Response to "Selamat Datang Cinta"
Posting Komentar