Tanah Pemakaman
Sirene
ambulans
membangunkannya. Seketika ia merasa rohnya yang sudah tercerabut tersedot kembali
ke dalam raganya. Tadi ia begitu yakin sudah mati, tapi raung sirene itu telah
membatalkan kematiannya. Ia duduk, menatap bagian belakang ambulans yang menjauh.
Bunyi sirenenya terus menyayup. Seraya berpegangan pada sisi becaknya, ia bayangkan
raganya sedang berbaring di dalam ambulans itu.
Sejenak ia merenungi kematiannya yang
urung. Andai rohnya tadi terus melesat meninggalkan raganya, ke mana ia akan
dimakamkan? Ia yakin Tuhan berkenan menunda kematiannya untuk memberi
kesempatan menyiapkan dulu tanah pemakamannya.
Ia masih meriang, lidahnya terasa
sepahit peria. Suhu tubuhnya masih tinggi. Seluruh sendi di badannya tercucuk
ngilu, serasa ada puluhan mata jarum di situ yang terus bergerak. Sudah dua
hari ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sekadar duduk pun terasa sulit, apalagi
bila harus mengayuh becak tuanya untuk mencari kardus bekas, botol plastik,
atau apa saja yang dapat ia jadikan uang pembeli makanan. Untung kemarin ada orang
yang iba, lalu meletakkan sebuntal roti di becaknya, hingga lilit perih
perutnya agak mereda.
Bila tidak ada persiapan sepetak
tanah, bagaimana nanti orang-orang akan memakamkan? Ia terus memikirkan, bergidik
membayangkan bila jasadnya harus dibuang ke laut, lalu jadi santapan ikan-ikan
buas. Ia ingin berbaring tenang di dalam alam kematian, selayaknya tidur panjang.
Kumparan pikiran itu membuat ia ingin berlekas mencari tanah pemakamannya.
***
Ada
tiga areal pemakaman di kota itu. Areal pemakaman tertua ada di daerah
perkotaan, dan yang dua lagi berada jauh di luar kota. Ketakmampuan mengayuh
becaknya sampai ke luar kota membuat ia fokus saja ke pemakaman tertua yang ada
di dalam kota.
Dengan lemah ia kayuh becaknya. Becak
tua itu tidak difungsikan lagi sebagai angkutan penumpang. Dibantu seorang
tukang las, bagian depan becak itu dimodifikasi membentuk bak empat persegi
panjang. Setelah itu, ke mana-mana ia membawa gulungan terpal yang akan ia
bentangkan menutupi bak becak itu bila hujan datang. Di situlah ia berumah.
Sudah
jelang sore. Ia tahu ajal tidak bisa dikalkulasi kapan datang. Walau sisa-sisa demam
tubuhnya masih terasa, tapi ia memaksakan diri. Tuhan sudah mengingatkan malam
itu, malam ketika ia terserang demam tinggi, yang sempat ia duga saat-saat
kematian datang. Ia yakini itu peringatan agar lebih serius memikirkan tanah
pemakamannya.
Tembok
yang mengapit gerbang pemakaman sudah beluwek, miring hampir tumbang. Ia tiba
di situ, lalu turun mendorong becaknya. Sampai di pertengahan jalan masuk areal
pemakaman, ia berhenti, karena di situ nisan-nisan sudah tidak tertata,
bertebaran mengalangi jalan. Cucur peluh membuatnya merasa sedikit lebih segar.
“Makam siapa yang dicari?”
Ia sedang menyeka peluh kala seseorang
berteriak dari belakang. Tubuhnya sedikit berputar, lalu menatap orang yang
mendekat itu.
Seperti
dirinya, kaus yang dikenakan orang itu juga lengket berkeringat. Di seputar
ujung kopiah lusuh yang menyungkupi kepala orang itu, menyembul helai-helai rambut
berwarna keperakan. Di tangannya tergenggam sabit. Ia menduga orang itu petugas
pembersih, atau penjaga tempat pemakaman ini. Ia mengira-ngira umur mereka
sepantaran, sama telah melewati lima puluhan.
“Saya
... ingin mencari tempat untuk pemakaman saya.”
Penjaga itu mengernyit tak paham.
“Maksudnya?”
“Apakah di sini masih ada tempat untuk
memakamkan saya?”
Dengan cepat orang itu menggeleng, kelihatan
kaget dan heran. “Di sini tidak ada pemesanan tempat,” ujar orang itu. “Di sini
malah sudah penuh. Paling juga kalau ada yang dimakamkan, biasanya yang punya pengurus
kuat di dinas.” Orang itu tersenyum, lalu berbalik pergi.
Ditinggal oleh penjaga pemakaman malah
membuatnya senang. Ia merasa bisa lebih leluasa mencari sendiri tempat
pemakaman yang menurutnya cocok, walau dikatakan sudah penuh. Tidak ingin putus
harapan, ia kemudian berkeliling, tersaruk di antara nisan-nisan yang tidak
teratur. Nisan-nisan itu dipaksakan untuk orang yang dimakamkan di sela nisan
sebelumnya, sehingga terlihat saling tumpang-tindih.
Setelah berkeliling dan mulai merasa lelah,
bahkan merasa akan tumbang, akhirnya ia temukan juga sepetak tanah kosong. Sejenak
mengamati, ia merasa itu tempat yang nyaman. Posisinya di sudut paling belakang
dari areal pemakaman. Sepetak tanah yang berbatasan langsung dengan tembok bagian
belakang pertokoan. Tembok tinggi itu menghalangi matahari yang doyong ke barat
mengirim panas ke situ. Posisinya pun agak tersembunyi, sehingga ia anggap itu tempat
terbaik untuk beristirahat selamanya.
Ia kembali ke becaknya mengambil
beberapa keperluan: air minum dalam botol plastik, sarung, sehelai selimut lusuh,
dua lembar kardus mi instan. Barang-barang itu ia susun dengan takzim di atas
sepetak tanah tadi. Ia merasa sedang menyiapkan rumah masa depannya.
Muncul keinginan merasakan tinggal
semalam di situ. Saat mulai duduk di atas kardus yang telah ia hamparkan,
dengan tubuh yang terasa amat lelah, terbit pula pikiran: jangan-jangan ia
tidur di situ bukan semalam, tapi selamanya. Jika malam nanti ajal yang tertunda
itu kembali mendatangi, maka tentu orang-orang yang kemudian menemukan jazadnya
tinggal menguburkan di situ. Ia berharap semudah itulah kematian dan
pemakamannya terjadi.
***
Malamnya
ia
menggigil. Gerimis mendadak datang dan angin agak kencang bertiup. Awalnya ia
ingin pasrah, menunggu kematian benar-benar datang. Ketika separuh malam
terlampaui dan ajal tidak juga datang, ia mulai merasa sangat menderita. Gigil
tubuhnya ia kekang dengan kemul sarung dan selimut, tapi cucuk dingin angin
serta terpaan gerimis membuatnya menyerah. Pertahanannya runtuh, mengubah keinginannya
melewati malam menunggu ajal.
Ia kemasi barang-barangnya. Ia seret
goyah tungkainya, menuju ke becaknya. Untung lampu jalan masih berbaik hati
mengirim sedikit cahaya ke tempat itu, sehingga ia terhindar terantuk gundukan
tanah dan tebaran nisan. Ia memutuskan pulang, ke sudut kolong jalan layang.
***
Hiruk
pagi tidak membuatnya bangun. Punggungnya tidak kuat lagi diajak duduk. Kepalanya
terasa amat berat. Badannya meriang lagi, serasa dikukus suhu tinggi. Tenaga
yang tersisa dalam tubuhnya hanya bisa menghela dan melepas napas saja.
Ia
pejamkan mata, mencoba mengingat doa yang pernah ia hapal. Perutnya terus
dikikis perih. Ia pasrah, sadar ajalnya segera datang; mungkin saja sedang
dalam perjalanan, atau sedang terjebak macet hingga belum sampai-sampai. Atau
malah sudah ada di atas kepalanya, sedang bergayut pada langit-langit kolong
jalan layang, tengah menatapnya sekarat.
Beberapa
gelandangan tetangganya yang biasa tidur merubung di bawah kolong itu sudah menyebar
diri, mencari sisa-sisa rezeki dari orang. Ia menyesal kenapa tidak menitip
wasiat kepada salah seorang bahwa bila ia mati hari ini, tanah pemakaman telah
ia siapkan. Semalam, tempat itu telah ia tandai. Tempat yang sangat ia sukai.
Dalam
pejam matanya, ia coba lafazkan doa, memohon agar ada orang mendatangi. Akan ia
bisikkan ke mana jazadnya harus dibawa untuk dimakamkan. Samar ia merasa mulai melihat
rohnya bersiap melepas diri dari raganya, mengiringi napasnya yang tersisa
satu-satu....
Saat
itulah ia dengar ada orang mendekat, makin lama semakin banyak, menyusul sayup
suara sirene ambulans.
***
Entah
berapa hari di rumah sakit, ia lalai menghitung karena setiap terbangun yang
teringat hanya tanah pemakaman itu. Ia yakin sepetak tanah yang telah ditandai
itu tidak ada yang minati karena menyempil dan jauh di belakang areal pemakaman.
Buktinya, selama ini tidak ada yang menempati. Ia merasa tanah pemakaman itu
memang untuknya. Itulah sampai ketika keluar dari rumah sakit, yang pertama ia lakukan
mendatangi tanah pemakaman itu.
Awalnya ia merasa salah lihat.
Tatapannya ke dalam areal pemakaman tidak terhalang pagar tembok. Di sana, sebuah
alat berat terus bergerak, dengan suara menggerung serupa orang kalap sedang
mengamuk; dan amukannya menyisakan onggokan tembok pagar, tembok kuburan dan
pecahan nisan yang bergelimpangan.
Ia mendekat, melihat sebagian besar
tanah pemakaman menyisakan lubang-lubang persegi yang menganga. Rupanya
orang-orang yang telah dikubur di situ telah dipindahkan.
Penjaga makam yang dulu menanyainya
datang. Begitu mengenali, buru-buru ia bertanya, “Kenapa dibongkar?”
“Dipindahkan,” jelas penjaga makam. “Dulu
pemakaman ini memang di pinggiran kota, tapi pembangunan membuat posisinya sekarang
malah ada di tengah kota. Makanya dipindahkan.”
Ia menatap bingung. “Lalu, tempat ini,
buat apa?”
“Akan dibangun mal.”
Ia menatap ke sudut terjauh, ke tempat
yang ia tandai sebagai tanah pemakamannya. Kelebat pikirannya meruyak. Andai sudah
dimakamkan di situ, tentu tidak akan dipindahkan, karena ia tidak punya
keluarga untuk mengurus pemindahan kerangkanya. Ia bayangkan dirinya terus berbaring
di situ, mungkin sambil memperhatikan orang-orang berparas semringah berlalu-lalang
di dalam mal di atas jasadnya. ***
Parepare,
Okt. 2017-Juli 2018.
( Cerpen
ini dimuat pertama kali di koran: PADANG EKSPRES, Minggu,
26 Agustus 2018. )


0 Response to "Tanah Pemakaman"
Posting Komentar