Kelahiran Kedua di Dunia Bercerita
Analogi ‘menjadi penulis ibarat
dilahirkan kembali’ saya temukan dari ujaran seorang penulis. Saya lupa siapa,
tapi dari kalimat itulah saya terinspirasi membuat catatan rentang waktu kepenulisan
saya dengan membaginya dalam dua periode kelahiran.
Periode
kelahiran pertama penandanya adalah terbitnya cerpen pertama saya di
media. Serupa proses kelahiran seseorang, yang butuh waktu tidak sebentar, maka
proses lahir ini pun demikian. Bahkan bisa jadi lebih perih dengan segala beban
lika-likunya. Mengetik naskah ketika itu bisa berulang-ulang karena masih
menggunakan mesin ketik yang tidak memiliki fasilitas penghapus otomotis (delete) sebagaimana komputer yang kita
kenal sekarang. Menatap beratus-ratus lembar kertas yang telah diketik dengan
susah payah, bertumpuk di sudut kamar setelah ditolak media, saya rasa sesama
penulis tentu tahu merasai perihnya. Dan juga serupa lahirnya seseorang, cerpen
pertama yang kemudian berhasil dimuat, sontak disambut suka-cita dengan pekik
rasa senang.
Cerpen
pertama itu berjudul Elegi Rembang Petang, dimuat
di majalah ANITA edisi No. 228/April 1987. Setelah itu, mulailah saya dengan
setia melakoni hidup sebagai penulis cerita (cerpen). Begitu asyik menjalani, sampai
tidak terasa periode ‘hidup dalam kelahiran pertama’ ini bisa berjalan dalam
kurun 20 tahun, hingga 2007.
Di
periode ini, usia kepengarangan saya berakhir pasca terbitnya cerpen Hikayat Tiga
Burane (dimuat koran FAJAR). Cerpen
ini menjadi penanda ‘mati suri’nya riwayat saya sebagai penulis cerita. Entah
kebetulan, cerpen yang dimuat di penutup tahun (30 Desember 2007) ini, juga
menjadi penutup keceriaan saya menulis cerita; yang dalam catatan saya, ini
adalah cerpen ke-71 yang berhasil terbit di media.
Sampai
sekarang, saya belum bisa merumuskan dengan jelas apa yang membuat saya ‘mati
suri’ menulis setelah 2007 itu. Yang paling mungkin saya kambinghitamkan
sebagai penyebab, ada di dalam diri saya sendiri: ia bernama kejenuhan. Sesekali saya memang mencoba
menulis lagi, tapi betapa berat meruntuhkan takhta ‘rasa jenuh’.
Saya
sempat skeptis, apakah aktivitas menulis saya masih bisa dilahirkan kembali,
akibat terlalu lamanya saya terkekang rasa tidak bisa lagi melakukan apa-apa
dalam menulis cerita. Untunglah pada masa-masa ‘tidak bisa apa-apa’ itu saya
masih terus mengemuli keseharian saya dengan banyak membaca; dan saya rasa, itu
kemudian cukup memberi andil cepat move-on
saat mulai menulis lagi.
Butuh
rentang waktu sampai sembilan tahun pasca mati suri itu untuk kembali berproses
lahir sebagai penulis –mungkin semacam bereinkarnasi-- dan pencetusnya, agak
tidak terduga: pertemanan di Facebook.
Di
dunia yang maya dan tak memiliki batas jarak wilayah itu, saya berteman dengan
banyak penulis, lebih banyak lagi dengan mantan pembaca cerpen-cerpen remaja
saya di era majalah Anita. Kalau
dibuatkan angkatan, pembaca ini saya kelompokkan angkatan pembaca tahun 90-an. Mereka
(penulis dan mantan pembaca cerpen-cerpen saya itu) seraya berbalas chat terus pula memberi saya semangat, membesarkan
hati, menggaungkan dorongan motivasi agar saya kembali menulis.
Peletiknya
kemudian adalah cerpen Tanah Orang-Orang Hilang. Pada akhir
2015, media online yang khusus menayangkan
cerpen (TamanFiksi.com) mengadakan sayembara menulis cerpen. Berupaya memaknai
ketulusan teman-teman Fb yang telah menyemangati dan membesarkan hati saya itu,
saya coba himpun kembali energi menulis dan berusaha keras menulis lagi demi bisa
ikut dalam sayembara cerpen itu.
Akhirnya
saya bisa mengikutkan dua cerpen. Satu gagal, sedang yang satunya lagi –seperti
yang saya tuliskan judulnya di atas-- ternyata lolos terpilih menjadi salah
satu nomine. Walau tidak menjadi juara, tapi cerpen itu kemudian ikut dibukukan
bersama cerpen-cerpen pemenang, dalam antologi: Menari di Atas Pecahan Beling (terbitan TamanFiksi.com/2016). Cerpen itulah yang kemudian menjadi penanda
‘kelahiran kedua’ saya di dunia cerita.


0 Response to "Kelahiran Kedua di Dunia Bercerita"
Posting Komentar