Gedung Bau


Perihal bau dari gedung itu, beritanya sudah kerap kali muncul di koran. Mulai terasa biasa. Ketika ada pembeli koran yang mendengus-dengus kesal saat membacanya, terkadang pula ada yang mengumpat menyerapahi, paling aku senyum-senyum geli. Aku menjadi tertarik menceritakan, karena siang itu warga kota datang berbondong-bondong, melewati jalan di depan gerobak koran jualanku, menuju alun-alun.
Sejak aku masih bocah, gedung itu telah ada di sana. Gerbang pagarnya tepat ‘tertusuk’ ujung jalan, sehingga orang menyebutnya posisi tusuk sate. Dan ujung jalan yang satunya lagi, terdapat alun-alun kota, dari mana kita bisa menatap bentuk gedung secara utuh.
Menatap dari alun-alun, bentuk gedung itu akan menggiring imajinasi pada bentuk-bentuk tertentu. Warga kota pernah meributkannya. Ada yang bilang gedung itu berbentuk kelamin perempuan, ada yang bilang gundukan yang terbelah itu bermakna keseimbangan; bisa kanan-kiri, yin-yang, gelap-terang, atau siang-malam. Ada juga yang menafsir bentuk gedung itu merupakan lambang cinta.
Ke sanalah orang berbondong-bondong. Dikilik rasa penasaran, kututup tingkap gerobak jualanku lalu mengikuti arus bergerak orang-orang yang menuju alun-alun. Soalnya ada beberapa orang berteriak-teriak, “Musnahkan tikus-tikus itu!” Dan itu menarik perhatianku.
Tubuhku menyelip ke dalam rombongan. Seraya berjalan, kugamit orang yang berjalan di sisiku, “Di mana tikus-tikus itu?”
“Di dalam gedung itu,” orang itu menunjuk atap gedung yang mulai terlihat. “Sering orang melihat tikus keluar-masuk gedung itu.”
“Orang-orang yang melihatnya bilang, jumlahnya terus saja bertambah banyak,” seraya menoleh, orang di depanku ikut menyela. “Bisa jadi, tikus-tikus itu telah membentuk koloni di dalam gedung, dan itulah yang menyebarkan bau busuk.”
Selama ini, sering kudengar warga kota juga mengeluhkan penyebaran bau busuk yang menguar dari gedung itu. Bau busuknya tidak mengikuti arah angin, tapi menyebar ke segala arah, bahkan bisa melawan arah angin. Dan setelah sekian lama menanggang napas akibat bau itu, rupanya hari ini orang-orang merasa saatnya melakukan pembasmian. Hasratku makin besar pula untuk ikut menyaksikan bagaimana tikus-tikus itu nanti dimusnahkan.
Rombongan sudah mulai menyusuri jalan dari alun-alun yang me’nusuk’ ke halaman gedung. Seraya terus ikut berjalan, kuingat-ingat bagaimana selama ini, sebelum diselimuti bau busuk, gedung itu malah pernah menjadi kebanggaan warga. Gedung itu sebenarnya telah menjadi ikon kota. Bukan cuma warga kota, para pelancong pun merasa belum puas bila tidak memiliki koleksi swafoto di depan gedung itu, lalu ramai mengunggahnya di media sosial.  
Telah banyak massa yang berkumpul di depan pagar gedung. Aku sampai berlari kecil, lalu menyempil-nyempilkan tubuh untuk melihat langsung apa yang sedang terjadi. Ternyata gerak massa sedang terhalang portal yang dijaga petugas keamanan gedung.
Ditingkahi yel-yel yang dipekikkan massa, bentak petugas keamanan gedung pun jadinya hanya sayup terdengar, “Hei, hei, ada apa ini....”
“Kami ingin membasmi tikus-tikus yang menghuni gedung ini!” suara lantang beberapa warga. “Kami yakin, tikus-tikus itulah sumber bau busuk yang selama ini mengganggu ketenteraman hidup kami.”
“Di sini tidak pernah ada tikus,” sangkal komandan jaga. “Kalian lupa, bila yang berkantor di dalam gedung ini adalah orang-orang terhormat? Mereka orang baik-baik, mestinya dimuliakan pula....”
 Warga tidak menggubris. Mereka tetap merangsek. Dalam jumlah banyak dan mulai tersulut amarah karena dihalangi, palang pada gerbang terpelanting oleh dorongan massa. Setengah regu petugas keamanan gedung buru-buru menepi, tak kuat menahan gerak massa yang serupa air bah menjebol dam.
Karena tidak bisa ikut masuk gedung, kumepetkan saja tubuh di sudut selasar. Agaknya sudah terlalu banyak orang yang masuk. Aku hanya bisa menunggu kabar perburuan itu, seraya membayangkan orang-orang yang menyeruduk masuk tadi, nanti akan keluar dengan karung penuh bangkai tikus.
Sembari menunggu, kusempatkan mengamat-amati halaman gedung yang luas. Tempat parkirnya dipenuhi mobil-mobil mahal. Taman bunganya enak dipandang, ada pula air mancur menari-nari. Walau tidak ikut masuk, tapi berani kuduga bagian dalam gedung pun tentu amat bersih dan mewah. Memang mengherankan bila gedung semegah ini dihuni sekoloni tikus, yang biasanya malah menyukai tempat-tempat jorok dan kumuh yang tidak terawat. Jadi dari tempat sebagus ini, selalu menguar bau busuk?
Sekitar setengah jam kemudian, orang-orang yang masuk tadi sudah keluar, tapi justru dengan wajah memelas bingung.
“Aneh!” seseorang berseru. Kelihatannya ia tadi yang memimpin di depan. ”Tidak seekor pun tikus kami temukan di dalam. Yang kami dapati ... hh, benar-benar aneh....”
Warga yang berkumpul jadinya berdebat sendiri. Sebagian kukuh dengan kesaksiannya, bahwa mereka sering melihat sejumlah tikus berseliweran keluar-masuk ke dalam gedung ini. Mereka menyelakan rasa heran, “Bagaimana mungkin yang berkantor di sini, tidak melihat tikus-tikus itu keluar-masuk gedung? Pasti pula berseliweran di sekitar mereka! Atau....”
Seseorang di sampingnya menyela tak sabar, “Yang kami dapati, justru orang-orang berjas perlente, berpakaian mahal dan berlabel luar negeri. Merekalah yang berkantor di sini.”
 “Atau, jangan-jangan mereka yang berkantor di sini, sengaja memelihara tikus-tikus itu?”
Kemudian terjadi kegaduhan. Warga merasa kecewa tidak menemukan koloni tikus itu. Mereka bertahan, sebagian di selasar gedung dan sebagian lagi di halaman, dan mulai berteriak-teriak protes. Mereka tetap kukuh, yakin tikus-tikus itu ada di dalam sana, menduga ada yang sengaja menyembunyikan.
Ribut-ribut itu akhirnya membuat beberapa orang yang berkantor di dalam gedung ikut keluar. Kuduga mereka mulai tersinggung, mungkin merasa kehormatan dan kemuliaannya terganggu; seperti yang dikatakan petugas keamanan gedung tadi, bahwa mereka yang berkantor di dalam gedung adalah orang-orang terhormat dan mestinya dimuliakan pula.
Yang berdiri paling depan, langsung melontar ujar, “Lihat kami! Lihat, apa tampilan kami ini, pantas menyebarkan bau busuk? Lihat senyum kami, yang berusaha terus kami sunggingkan kepada para warga kota, kepada masyarakat, lalu bagaimana mungkin kami malah disangka di sini sedang memelihara tikus?”
Tanpa gentar, seorang warga maju. Seraya berhadap-hadapan, ia lalu membeberkan soal bau busuk dan sejumlah tikus yang sering warga lihat keluar-masuk gedung.
Mendadak mereka yang berkantor di gedung itu menderaikan gelak. “Atau, jangan-jangan,” tantang seorang di antaranya, di sela bahak, “hidung kalian yang bermasalah, hanya bisa mengendus bau busuk dan tidak bisa mencium bau wangi?”
Dalam lelah, kepanasan, mulai pula putus asa kebingungan, dituduh hidungnya bermasalah membuat warga yang bergerombol menjadi marah sehingga makin ramai melontar protes. Mereka pun merangsek mendekat, dan akhirnya terjadilah aksi saling-dorong. Bahkan kemudian ada yang berteriak, menuding-menuding, “Pasti kalian yang berkantor di sini yang telah menjelma serupa tikus, seperti yang sering kami lihat!”
Setelah itu, tidak usah kuceritakan lanjutan kejadiannya, karena suasananya menjadi sangat ricuh. ***
Parepare, Mar.-Sept. 2018.
( Cerpen ini dimuat pertama kali di koran:  BANJARMASIN POST,  Minggu, 25 November 2018 )

0 Response to "Gedung Bau"

Posting Komentar