Duel Kedua
Malam
itu, seusai menandaskan isi gelas, lorong-lorong ususku yang memanas hendak
kubawa keluar mencari angin. Saat mau berdiri, di belakang cuping telingaku ada
embus uap napas berbisik, “Sudah berkali-kali kutanyakan di mana kamu sembunyikan
putriku. Malam ini, bila kamu tidak juga mau mengatakannya, maka....”
Urung
kutolehkan kepala. Kurasakan ada benda dingin menekan tengkukku, dengan sahut, “Dia
ada di mana?”
“Di tempat yang tidak perlu kau tahu,”
kucoba mengelak. “Lebih baik kau berhenti mencarinya. Nadya toh tidak
menganggap kau bapaknya.”
“Oo,
jadi kamu telah mencuci otaknya?” Seiring tekanan logam dingin di tengkukku, golak
amarahku melumer oleh rasa takut.
“Kamu
pasti tidak menyembunyikan di apartemenmu,” ujarnya. Aku memang tidak sebodoh
itu, karena ia pernah ke situ berteriak-teriak mencari istrinya yang tidak mau pulang.
“Kita
tidak perlu lagi meributkan soal Nadya,” saat menyahut, lidahku kuduga mulai
kelu. “Coba kau tanya istrimu....”
Sejak
ia menempelkan moncong pistol di tengkukku, terus kureka-reka pada menit ke
berapa benda itu akan menyalak, dan pelurunya meremukkan batang leherku.
Rekaanku ternyata kemudian meleset: ia memilih menghantam tengkukku, entah
dengan benda apa, membuatku tersungkur. Cahaya di dalam bar sontak kulihat buram.
Entah
berapa jam kemudian, kudapati tubuhku telentang di dalam istal. Kutahu itu
istal karena ketukan-ketukan di lantai. Awalnya sayup di pendengaranku kusangka
orang sedang memaku, ternyata itu gerak mengetuk ladam kaki-kaki kuda. Suara
dengus yang sesekali menyertai gerak mengetuk itu, membuatku sadar di mana aku
berada.
Tubuhku ditelentangkan di atas hampar
jerami. Tengkukku tidak lagi sesakit sebelumnya, dan aku bersyukur napasku masih
bisa kuhela-lepas dengan lancar. Terpujilah orang yang membawaku ke tempat ini,
kuanggap saja ia telah menghidupkan aku kembali.
“Sudah mau menjawab pertanyaanku?”
Kutemukan kesadaranku, ketika orang
terpuji itu datang dari arah kepalaku. Untuk keluar dari istal, tentu mesti
lewat di sana pula. Ia menghentikan langkah, tepat di sisi atas kepalaku,
membuatku tengadah menatap di antara kangkang kedua kakinya. Walau nyala bohlam
di atas kepalanya membuat wajahnya hanya berupa siluet, tapi aku bisa mengenali.
“Harusnya tadi kamu sudah mati di
dalam bar,” ujarnya lagi.
Bila
kupaksakan bangkit, bisa jadi baru bergerak telapak sepatunya sudah melesak ke
wajahku. Kuurungkan keinginan itu, seraya mengawasinya meraih sekop dari sudut
ruang. Ia kemudian menjadikan sekop itu sebagai penyanggah tangan, dan berdiri
di sisi tubuhku.
“Kalau kamu tidak mau memahami betapa aku
mencintai anakku, maka di tempat ini nyawamu benar-benar akan tercerabut dari
tubuhmu.”
Aku bergidik. Kubayangkan bagaimana
sekop itu nanti mencacah wajahku, seluruh tubuhku, dan mungkin akan serupa
cacahan pakan kuda.
“Sudah mau mengatakannya?”
Kukulum tangisku, dan tidak kudesahkan
satu kata pun. Ia menyeringai seraya menggesek-gesekkan mata sekop di atas
permukaan lantai tembok, melepas suara yang terasa mengiris-iris hatiku.
“Bila tidak memikirkan putriku,”
katanya lagi, “sudah kulubangi batok kepalamu.”
Semangatku tumbuh. Tentu ia ingin aku terus
hidup, agar bisa mengorek keterangan di mana kusembunyikan Nadya.
“Sebutkan di mana putriku berada. Bila
kamu berkata jujur dan bisa kutemukan tempat itu, kamu boleh pergi dari sini,
lanjutkan hidupmu,” ia memberi penawaran. “Namun, bila kamu bohong,” sejenak ia
menggeser ujung sekop dengan sepatunya, hingga dingin logam pipih itu menempel
ke pipiku, “maka di sinilah kuburanmu akan digali.”
Semangatku menciut lagi. Makanya
begitu melihat ada sekop lain bersandar di dinding, otakku berkelit tangkas: aku
berguling secepat yang aku bisa menuju sekop itu. Aku tidak ingin ia mempecundangiku
lagi!
Entah apa kemudian yang menghantam bagian
samping kepalaku. Kulihat sekop yang tadi hendak kuraih malah seperti menjauh,
dan ruang istal perlahan menghitam.
Saat
itu, sempat kusangka diriku telah mati. Namun, entah berapa lama setelahnya, kutemukan
kembali tubuhku, masih tergeletak di atas hampar jerami. Dadaku masih bisa naik-turun
dengan teratur. Kuhimpun semangat, yakin bisa hidup dan menuntut balas, lalu coba
merangkak keluar dari istal.
Beberapa
malam setelah kejadian itu, dalam persembunyian, terus kupiara emosi yang
meletupkan buncah dendam padanya. Dan malam ini, walau kepalaku masih pening
dan agak oleng, kutekadkan ada duel kedua yang membuatnya terkapar. Demi
menyudahi recokannya.
Tanganku
mencengkeram pintu bar. Saat kulihat punggungnya di depan meja bar, kuingat
kembali dengan pedih bagaimana perjuanganku keluar dari istal malam itu. Untung
alam berbaik hati, temaram cahaya bulan menuntunku menyisir ladang gandum,
sebelum berhasil mencapai tepi jalan raya. Tidak sepenuhnya berjalan cepat, lebih
kerap terseok-seok, kubawa tubuhku yang terasa remuk menjauh dari istal. Kuduga
ia tidak menginap di sana, dan penjaga rumah ladangnya pasti sedang mendengkur
pulas.
Seraya berjalan, ingatanku pada Nadya.
Tak akan kuserahkan anak itu. Toh dia anakku. Berkali-kali mamanya membawa ke
apartemenku, membuatku merasa kian dekat. Sebajingan-bajingannya aku, tetap tidak
sudi bila bangsat itu yang mengasuhnya.
Sudah
takdirku malam itu masih bisa hidup. Walau truk keempat yang kutahan baru mau
memberi tumpangan, kebaikan hati supirnya mengantar sampai ke kota kuanggap
cara Tuhan mengirim malaikat untuk memanjangkan hidupku.
Kusisihkan
ingatan pedih pada duel pertama itu, lalu berjalan ke arah punggungnya. Ia
sedang menenggak minuman langsung dari botolnya. Kulihat ada botol lain di atas
meja bar dan mungkin isinya sedang mengalir pula di lorong-lorong ususnya.
Kepalanya agak doyong, nyaris menyentuh permukaan meja bar. Aku berdecak penuh
kemenangan.
“Kamu sudah mau mengatakan di mana putriku?”
Sempat kusangka tengkuknya memiliki
mata, sebelum kusadari kebodohanku: kaca pada rak minuman di belakang bartender
ternyata memantulkan bayanganku, memberitahu kedatanganku.
“Nadya kupindahkan ke kota lain. Tahun
depan akan kumasukkan ke TK.” Aku berusaha tertawa riang. “Sekaligus menjauhkan
darimu.”
“Tidak
kupersoalkan bila kamu ingin hidup dengan sundal itu, tapi kembalikan putriku.”
Parau suaranya coba kuanggap saja igau, mungkin api di dalam minuman yang ia
tenggak telah menghanguskan tenggorokannya. “Aku tidak ingin anakku tumbuh di
bawah bayang-bayang perempuan jalang itu!”
“Kamu
membuatku frustrasi,” ia terus mengoceh. “Kamu keras kepala! Dan sangat mujur. Harusnya
kamu sudah mati di dalam kandang kuda itu!”
Kuenyahkan
rasa gentar, memepet punggungnya, kemudian menyentuhkan moncong pistol pada tengkuknya.
Jariku lekas menggerayangi selipan pinggangnya. Tidak kutemukan ada benda yang
dapat membunuhku.
“Tidak usah menoleh,” bisikku, melihat
lehernya bergerak.
“Tadi
kupikir kamu ke sini untuk mengatakan di mana putriku.”
“Aku ke sini untuk memintamu berhenti
menanyakannya,” kataku tegas. “Kau pikir aku juga senang hidup dengan perempuan
itu? Aku cuma ingin anakku.”
“Nadya
putriku!”
Ia
menyentak ingin meraih, segera kubalas dengan tekanan moncong pistol di
tengkuknya. Ujarku, “Aku heran, apakah kau pura-pura dungu, atau memang tidak
pernah kau tanya istrimu, siapa yang lebih dulu menyimpan benih di rahimnya.”
Kuduga
ia mulai takut. Ia bergeming. Moncong pistolku pun sudah siap menyalak. “Istrimu
memang liar ... uh, dan sangat sempurna sebagai wanita ketika bersamaku,” kekehku.
“Dan dia mengaku, kau tidak ada apa-apanya sebagai laki-laki.”
Mendadak ia meraih botol di atas meja
bar. Kupikir tak perlu mengelak. Botol itu tidak akan sampai di kepalaku,
karena kokang pelatuk pada pistolku kemudian, kuyakin hanya butuh sedetik untuk
meremukkan pembuluh darah di batang lehernya. Aku tertawa keras saat pelatuk
pada pistol di genggamanku telah berbunyi ‘klik’....
Entah
apa kemudian yang terjadi. Aku mendengar suara berderak, dan botol minuman
pecah berhamburan membentur bagian samping kepalaku. Kurasakan kepalaku seakan
melayang. Seluruh ruang bar mendadak kulihat sangat putih, mungkin baru saja
ada kilat menyambar masuk dan menabrak kedua bola mataku.
Tubuhku
tersentak ke samping, jatuh menimpa kursi. Saat tengkurap di lantai, kurasakan
ada semacam biji kacang mengganjal di dalam saku kemejaku, menekan dadaku. Dalam
kedut sekarat, aku merutuk: Uhh, kenapa peluru satu-satunya yang kupunyai itu,
lupa kuiisikan pada pistolku? ***
Parepare, April
2017-April 2019
( Cerpen ini dimuat pertama kali di
mingguan: Minggu
Pagi, 19
April 2019 )


0 Response to "Duel Kedua"
Posting Komentar