Persentuhan Pertama dengan Dunia Cerita
Yang membuat saya tertarik dengan
‘dunia cerita’, khususnya cerpen, gara-gara saya sering
membeli majalah TTS. Sepertinya tidak ada hubungannya, tapi baiklah, agar ingatan pada momen ini tidak menguap begitu saja, saya coba ulik
ingatan dan menulis catatannya di sini.
Pada akhir tahun 70-an dan awal 80-an, saya suka sekali mengisi teka-teki silang alias TTS. Ketika itu saya berlangganan 2 majalah teka-teki silang sekaligus; yang satu namanya masih saya ingat: Asah Otak, yang satunya lagi saya lupa. Jangan membayangkan majalah seperti itu tampilannya seperti majalah serupa di era 2000-an, yang kadang cetakannya buram dengan mutu kertas seadanya. Tampilan majalah itu cukup keren (untuk zamannya), dan setiap edisi selalu bertaburan hadiah. Makanya jadwal terbitnya pun selalu ditunggu.
Hadiah itu ada dalam bentuk uang, ada juga dalam bentuk barang. Jadi setelah mengisi kotak-kotak teka-teki silang itu, jawabannya ditulis (di selembar kartu pos, kadang pula di kertas lalu diamplopkan), kemudian dikirim via pos. Yang berhak mendapatkan hadiah tentu yang jawabannya benar plus menang diundi, karena jawaban benar yang masuk bisa diduga jauh lebih banyak dari kuota hadiah yang tersedia.
Saya pernah mendapat hadiah, bukan cuma sekali, baik uang maupun barang (jam tangan dan jam meja). Hadiah itu jadi kebanggaan tersendiri bila dipamer pada teman-teman sekolah, karena dilabeli ‘hadiah TTS’, yang konotasinya “hanya orang-orang yang memiliki perbendaharaan kata dan pengetahuan umum yang sanggup memenuhi kotak-kotak pada teka-teki silang” itu.
Di setiap edisi majalah TTS itu, ada sisipannya berupa cerita. Paling sering cerita detektif. Bahkan ada juga cerita khusus berteka-teki; ceritanya berupa sebuah kasus dan dibuat menggantung. Tugas pembaca adalah ikut memecahkan kasus itu. Dan ada pula hadiahnya.
Setelah berlanggananan berpuluh-puluh edisi, koleksi mulai bertumpuk, saya mulai pula bosan. Mengisi teka-teki silang mulai menjemukan dan kehilangan daya tarik. Terasa pertanyaannya itu-itu saja yang diputar-putar setiap edisi. Yang membuat saya tetap membelinya, karena ingin mengoleksi sisipan ceritanya.
Sisipan cerita dari majalah itu saya lepas, kemudian saya kumpulkan dan dibundel. Sering saya baca ulang, apalagi yang ceritanya berteka-teki pula. Mulailah saya rasakan, membaca cerita jauh lebih asyik dibanding mengisi teka-teki silang. Pada setiap edisi yang hanya disisipi 2 cerita, bahkan lebih sering 1 (kebanyakan cerita terjemahan), membuat saya berpikir: alangkah bagusnya kalau ada majalah yang isinya lebih banyak halaman cerita dibanding halaman teka-teki silangnya.
Keinginan saya kemudian terwujud dengan menjamurnya penerbitan majalah kumpulan cerpen; yang sempat menjadi ‘legenda’ seperti majalah Anita, kemudian Aneka, Ceria, dan beberapa majalah sejenis. Kegemaran saya lalu terpola jelas: menjadi pelahap cerita; dan saya dengan bangga menyebut hobi saya: membaca dan mengoleksi cerpen.
Minat baca pada cerita yang makin menjadi-jadi, akhirnya menuntun saya menemukan tempat nongkrong yang serasa surga: kios penyewaan komik dan novel. Dan inilah masa ketika nama-nama idola yang terekam baik di benak saya didominasi oleh para penulis cerita, yang kemudian memunculkan keinginan bisa melakoni hidup seperti mereka.
Pada akhir tahun 70-an dan awal 80-an, saya suka sekali mengisi teka-teki silang alias TTS. Ketika itu saya berlangganan 2 majalah teka-teki silang sekaligus; yang satu namanya masih saya ingat: Asah Otak, yang satunya lagi saya lupa. Jangan membayangkan majalah seperti itu tampilannya seperti majalah serupa di era 2000-an, yang kadang cetakannya buram dengan mutu kertas seadanya. Tampilan majalah itu cukup keren (untuk zamannya), dan setiap edisi selalu bertaburan hadiah. Makanya jadwal terbitnya pun selalu ditunggu.
Hadiah itu ada dalam bentuk uang, ada juga dalam bentuk barang. Jadi setelah mengisi kotak-kotak teka-teki silang itu, jawabannya ditulis (di selembar kartu pos, kadang pula di kertas lalu diamplopkan), kemudian dikirim via pos. Yang berhak mendapatkan hadiah tentu yang jawabannya benar plus menang diundi, karena jawaban benar yang masuk bisa diduga jauh lebih banyak dari kuota hadiah yang tersedia.
Saya pernah mendapat hadiah, bukan cuma sekali, baik uang maupun barang (jam tangan dan jam meja). Hadiah itu jadi kebanggaan tersendiri bila dipamer pada teman-teman sekolah, karena dilabeli ‘hadiah TTS’, yang konotasinya “hanya orang-orang yang memiliki perbendaharaan kata dan pengetahuan umum yang sanggup memenuhi kotak-kotak pada teka-teki silang” itu.
Di setiap edisi majalah TTS itu, ada sisipannya berupa cerita. Paling sering cerita detektif. Bahkan ada juga cerita khusus berteka-teki; ceritanya berupa sebuah kasus dan dibuat menggantung. Tugas pembaca adalah ikut memecahkan kasus itu. Dan ada pula hadiahnya.
Setelah berlanggananan berpuluh-puluh edisi, koleksi mulai bertumpuk, saya mulai pula bosan. Mengisi teka-teki silang mulai menjemukan dan kehilangan daya tarik. Terasa pertanyaannya itu-itu saja yang diputar-putar setiap edisi. Yang membuat saya tetap membelinya, karena ingin mengoleksi sisipan ceritanya.
Sisipan cerita dari majalah itu saya lepas, kemudian saya kumpulkan dan dibundel. Sering saya baca ulang, apalagi yang ceritanya berteka-teki pula. Mulailah saya rasakan, membaca cerita jauh lebih asyik dibanding mengisi teka-teki silang. Pada setiap edisi yang hanya disisipi 2 cerita, bahkan lebih sering 1 (kebanyakan cerita terjemahan), membuat saya berpikir: alangkah bagusnya kalau ada majalah yang isinya lebih banyak halaman cerita dibanding halaman teka-teki silangnya.
Keinginan saya kemudian terwujud dengan menjamurnya penerbitan majalah kumpulan cerpen; yang sempat menjadi ‘legenda’ seperti majalah Anita, kemudian Aneka, Ceria, dan beberapa majalah sejenis. Kegemaran saya lalu terpola jelas: menjadi pelahap cerita; dan saya dengan bangga menyebut hobi saya: membaca dan mengoleksi cerpen.
Minat baca pada cerita yang makin menjadi-jadi, akhirnya menuntun saya menemukan tempat nongkrong yang serasa surga: kios penyewaan komik dan novel. Dan inilah masa ketika nama-nama idola yang terekam baik di benak saya didominasi oleh para penulis cerita, yang kemudian memunculkan keinginan bisa melakoni hidup seperti mereka.


0 Response to "Persentuhan Pertama dengan Dunia Cerita"
Posting Komentar