Taman Cinta Pak Tua
Uar-uar kabar dari seseorang yang merasa melihat
Pak Tua datang dari utara, sontak membuat hening pagi berubah hiruk. Rasa penasaran menyisihkan rasa sangsi bahwa
Pak Tua telah lama tiada, membuat orang-orang datang berkerumun. Kematian Pak
Tua memang tidak ada yang menyaksikan, tapi bisakah dikira-kira ia masih hidup
bila telah berpuluh tahun tak pernah lagi terlihat? Apalagi usianya yang tentu
kian sepuh.
Ingatan orang pada Pak Tua yang sudah
lucut, kembali terbit. Ia yang telah dikira mati tiba-tiba muncul kembali, betapa
mencengangkan! Apalagi dikatakan muncul dari arah utara. Itu wilayah tak
berpenghuni kota mereka, bahkan penduduk kota meyakini di sebelah sanalah
bagian paling tepi dari bumi yang mereka huni. Tatap mata ke sana hanya mampu
melihat tebaran bongkahan batu sebesar gajah, lebih kerap terlihat samar dalam
dekap kabut sehingga menyerupai monster sedang terlelap. Mereka yakin, dalam
jarak entah berapa ribu depa ke sana tepi bumi berada.
“Pak Tua membawa sekantung ... entah
apa,” lanjut si penguar kabar megap-megap, membuat pengerumun kian penasaran.
“Sekantung apa?” sergah pengerumun, dan
cepat melanjutkan, “Lebih baik kita mencarinya. Pak Tua mungkin kembali ke
bekas kiosnya.”
Mereka segera mengurai diri, berlekas
mencari Pak Tua. Semua menuju ke bekas kios Pak Tua dan mendapati di sana sedang
duduk bersandar. Di pangkuan Pak Tua terlihat ada kantung kain menggelembung
penuh.
Orang-orang mendekat, dan rupanya
mereka lebih tertarik bertanya, “Apa itu, Pak Tua?” alih-alih menanyakan ke
mana saja Pak Tua selama ini.
Pak Tua merogoh isi kantung kain di pangkuannya,
meraup segenggam biji-bijian dari dalam kantung, lalu menengadahkan telapak
tangan dengan setumpuk biji-bijian tertadah di atasnya. Ia menjelaskan, “Inilah
benih terbaik yang pernah ada.”
Beberapa kepala saling-desak melongok
isi telapak tangan Pak Tua. Raut muka mereka bergurat bingung.
“Cinta tak lagi dimuliakan di tempat
ini,” ujar Pak Tua. “Masa-masa suram sedang mengungkung kita, Nak, dan saatnya
kita mencoba menyemai biji-biji ini....”
***
Walau
usia sepuh telah melayukan langkahnya, tapi Pak Tua berupaya terus
menyeret goyah tungkainya mendatangi tempat-tempat orang berkerumun. Ia
menawarkan biji-bijian di dalam kantung kain yang ia bawa untuk disemai.
Orang-orang menatap heran, menggeleng-geleng dan tersenyum, sebagian merasa iba
menganggapnya telah pikun. Suasana kota sedang panas, digosok kasak-kusuk dan
intrik persaingan dua kubu calon walikota, yang dengan cara banal terus
berusaha merasuki isi kepala warga dengan propaganda tentang kelebihannya dan
kekurangan lawannya, sehingga ulah Pak Tua yang terus pula menawarkan
biji-bijian entah apa untuk disemai, membuat warga kota merasa kian sumpek.
“Biji-bijian itu akan tumbuh menjadi
apa, Pak Tua?” cibir orang.
“Akan menjadi tumbuhan cinta, Nak,”
bijak Pak Tua berkata. Yang mendengar masih belum sepenuhnya paham, ketika Pak
Tua melanjutkan, “Kota kita sekarang dihuni orang-orang yang gemar sekali
menebar dengki kepada sesama, menebar permusuhan, menebar hujatan. Akibatnya,
orang-orang menjadi begitu gampang marah dan saling mencurigai. Saling
memusuhi. Kelak biji-biji ini tumbuh, akan menumbuhkan pula cinta di hati kita,
Nak.”
Orang-orang malah kian mencibir, menganggap
Pak Tua memang sudah pikun.
***
Tidak
ada yang tahu siapa namanya. Jauh
sebelum kemunculannya kembali, saat ia dan istrinya masih tinggal di kota
mereka, orang-orang sudah memanggilnya Pak
Tua. Panggilan itu orang padankan saja dengan sosoknya yang memang sudah
tua. Bisa jadi orang-orang seusianya ada yang tahu, tapi mereka sudah pada
tiada.
Bersama istrinya, ia membuka kios cendera
mata. Tidak banyak yang datang berkunjung ke kiosnya. Sepertinya orang enggan
saling memberi sesuatu, termasuk hadiah berupa cendera mata. Beruntung Pak Tua
memiliki istri yang telaten menjajakan aneka bentuk cendera mata itu, seraya
berpromosi, “Ungkapkan rasa cintamu dengan benda-benda ini.” Namun, tetap saja tidak
banyak orang mau mengeluarkan uang untuk sekadar ‘mengungkapkan rasa cinta’, bisa
jadi yang membeli pun hanya karena kasihan saja.
Kios Pak Tua tidak bertambah ramai
disamperi pembeli, malah semakin sepi. Sampai kemudian ada saat tak ada lagi orang
datang. Pada masa itu pula, istrinya yang tidak pernah melahirkan anaknya, meninggal
karena sakit. Dengan hati galabah, Pak Tua memutuskan menutup saja kiosnya.
Gilas waktu kemudian membuat sosok Pak
Tua dilupakan orang. Sejak tak pernah lagi terlihat, ada yang mencetus duga Pak
Tua telah pindah ke kota lain, dan di sana meninggal. Sampai berpuluh tahun kemudian,
sampai ketika seseorang bersaksi telah melihatnya berjalan dari utara, dengan
membawa sekantung biji-bijian.
Sekantung biji-bijian yang Pak Tua jajakan
terus saja dicibirkan, malah banyak yang menduga Pak Tua tidak bisa lagi
membedakan yang nyata dengan ilusi. Perhatian warga kota lebih tersedot ke bara
persaingan dua kandidat wali kota yang berebut pengaruh untuk dipilih, membuat
mereka mengacuhkan saja kelakuan Pak Tua, geming pada ajakan menyemai
biji-bijian yang dibawanya.
Di suatu sore, merasa putus asa karena tidak
juga ada yang berminat menyemai biji-bijian yang dibawanya, Pak Tua memutuskan
meninggalkan kembali kota. Ia berjalan ke arah utara, dari arah mana dulu orang
melihatnya datang.
Pak Tua tiba di sebuah tanah kosong.
Batas kota masih ratusan langkah berjarak. Merasa amat lelah, ia mampir duduk
bersandar di batang pohon yang dijadikan orang sebagai penanda batas tanah. Beberapa
jenak kemudian kepalanya terkulai. Simpul kantung kain di pangkuannya terbuka,
meruahkan biji-bijian isinya ke tanah, sebagian menggelinding terbawa angin. Lama
baru ada pejalan kaki yang melintas melihatnya, dan menemukan orang tua itu
telah meninggal.
***
Selayaknya orang sakti yang telah tiada, misteri
tentangnya tentu banyak bermunculan.
Demikian pula sosok Pak Tua; sejak di tempat ia duduk menemui ajal itu tumbuh
tanaman yang merombong, dan setiap hari memunculkan bunga beraneka warna, cerita
tentangnya tak henti dipercakapkan.
Ihwal tempat itu lalu disepakati warga
kota menamainya Taman Cinta, karena beberapa kejadian yang menyertai, di mana setiap
orang yang datang ke sana akan merasakan suasana berbeda. Gerumbun tanaman bunga
itu memancarkan aura yang membuat senang, membuat perasaan begitu damai. Sekadar
rasa gundah, gulana, atau malah amarah, bahkan rasa dengki, bila berlama-lama
di situ akan perlahan menguap.
Warga kota yang merasa betapa ajaibnya
tempat itu, lalu bersepakat melarang pengunjung memetik bunga-bunga yang tumbuh
di situ. Pengunjung hanya diperkenankan duduk-duduk mengitari, seraya merasai
bagaimana tanaman-tanaman penuh bunga itu menyerap aura buruk yang sedang merasuki
hati.
Orang-orang yang tinggal di kota yang
diceritakan ini, lalu memiliki kebiasaan: bila bertikai, mereka segera
menyelesaikannya di dalam area taman. Di tempat itu letik rasa permusuhan akan
terserap oleh tanaman yang ada di sana. Orang-orang kian takjub, melihat bagaimana
sepasang kekasih atau suami-istri yang sedang bertengkar, atau orang-orang yang
sedang saling-umpat, saat sudah berada di dalam area taman, beberapa jenak
kemudian akan saling memesrai dan berbaikan kembali.
Decak takjub pada keajaiban Taman Cinta
peninggalan Pak Tua, yang terus dibincangkan, memarakkan anggapan bahwa Pak Tua
sebenarnya orang sakti. “Patut kita duga, di tepi bumi sebelah utara kota kita
itulah tempat bermukim Pak Tua selama ini. Tentu di sanalah tanaman cinta itu
ia bibitkan,” simpul orang-orang; dan yang dulu bersaksi melihatnya berjalan
dari utara, dari mana cerita ini bermula, melengkapi pula kesaksiannya, “Ya,
saya ingat; dulu saat melihatnya datang dari utara, Pak Tua tidak berjalan. Ia
memelesat, seumpama batu yang dilepas dari tarikan karet ketapel.” ***
Parepare,
Mei 2017-Januari 2019
(Cerpen ini pertama kali dimuat di koran: RADAR SELATAN, Bulukumba, Senin 25 Februari 2019.)
(Cerpen ini pertama kali dimuat di koran: RADAR SELATAN, Bulukumba, Senin 25 Februari 2019.)


0 Response to "Taman Cinta Pak Tua"
Posting Komentar