Cerpen Kakek Tentang Nenek
Selasa, 14 Mei 2019
Edit
Menyambut enyak pantatku di kursi, Kakek langsung
membuka ceritanya, “Seorang perempuan tua menjual dua cucunya. Dia menjualnya
karena sangat sayang pada kedua cucunya itu.”
Di sela upaya mengatur aliran napas,
aku tertawa. Kuhitung-hitung, sudah ada dua tahun Kakek menjadikan aku sasaran
berondongan cerita-ceritanya. Setiap pulang ke rumah di akhir pekan, setengah
memaksa ia mengajakku ke beranda untuk mendengarnya bercerita.
Sejak masih era mesin ketik Kakek sudah
menjadi penulis cerpen. Cerpen-cerpennya telah tersebar terbit di banyak media.
Walau isi kepalanya tetap aktif merangkai cerita, tapi hukum alam terus
melayukan fisiknya, membuatnya dua tahun belakangan ini lebih suka melisankan cerpennya
alih-alih menuliskan.
Tanggapku kemudian, serupa protes, “Cucu
yang disayang kok malah dijual? Kesalahan apa yang telah dilakukan kedua anak
itu, sampai harus dijual?”
Abai saja pada protesku, Kakek meneruskan
ceritanya, “Cucu pertama dijual seharga seratus rupiah. Sedang cucu kedua, atau
adik dari cucu pertama tadi, dijual dengan harga sebuah badik.”
Akhirnya mulai kupasang mimik serius.
Seperti kebiasaannya, bila perhatianku mulai fokus, Kakek kian bersemangat pula.
Ia pasti tidak tahu, saat sedang semangat bercerita begitu yang kutatap
sebenarnya pampang gusinya yang kian kelam, dan geliginya yang kulihat terus
saja berkurang. Entah berapa rupiah telah ia habiskan membeli tembakau untuk
mengasapi isi mulutnya itu.
Kakek meraih tembakaunya. Ia berkata, “Baiklah,
supaya tokoh ceritanya menjadi jelas, kita sebut saja si Kakak, si Adik, dan perempuan
tua tentu kita sebut si Nenek,” decap Kakek. “Nenek itu bilang, kedua cucunya harus
dijual agar takdir anak-anak itu menjadi lebih baik.”
Aku melongo. “Ini perdagangan anak?”
“Takdir si Kakak dan si Adik lahir
dengan wajah sangat mirip bapaknya,” balas Kakek, melenceng dari maksud
pertanyaanku. “Begitu mirip, sampai ketika mereka lahir, dengan selisih waktu
dua tahun, si Nenek merasa bapak anak itulah yang seakan lahir kembali, sampai
dua kali. Nenek itu tentu tahu, karena bapak anak-anak itu kan anaknya sendiri.”
Merasa cerpen lisan Kakek kali ini agak
ngawur, aku protes lagi, “Kakek pernah bilang, cerita dalam sebuah cerpen mesti
punya logika. Yang ini: apa hubungannya kakak-adik itu harus dijual hanya
karena wajahnya sangat mirip wajah bapaknya? Anak ya memang mirip orang tuanya,
dong.”
“Wajah si Kakak dan si Adik ini, bukan
mirip wajah bapaknya, tapi nyaris sama persis. Seakan hasil fotokopi.”
“Hasil kloning kali,” gelakku.
Kakek ikut tertawa, memampangkan lagi isi
mulutnya yang porak-poranda. “Saat cerita ini terjadi, teknologi kloning belum
dikenal.” Gelak Kakek menghasilkan semburan asap yang bergelombang keluar dari
mulut dan hidungnya.
“Ada mitos yang diyakini Nenek itu, bahwa
anak yang sangat serupa dengan wajah bapaknya, dalam hidupnya cenderung
mengalami banyak masalah, bahkan musibah. Malah bisa pula berusia pendek; baik pada
si anak, maupun pada si bapak. Dan untuk mengelakkan ancaman seperti itu, ada
tradisi yang juga diyakini kebenarannya oleh si Nenek, yaitu dengan cara
menjual anak-anak itu kepada kerabat dekatnya.”
Kakek pasti tahu aku mulai pasrah saja
mengikuti plot ceritanya, sehingga ia terus bercerita, “Si Nenek menjual
cucunya kepada anaknya sendiri, atau paman dari anak-anak itu. Uniknya, atau
malah anehnya, setelah dibeli, kedua anak itu tidak dibawa, tapi dititipkan
kembali ke orang tuanya untuk dibesarkan.”
Mengelak dari kantuk mendengar cerita
Kakek, daripada cuma diam melongo aku menyela, “Bagaimana reaksi anak-anak itu,
Kek, ketika tahu dirinya dijual?”
“Yang sedih adalah si Kakak, saat tahu harga
jualnya sangat murah, cuma seratus rupiah. Si Adik meledeknya, karena uang
seratus rupiah itu hanya bisa membeli sepiring ubi goreng, atau bisa juga empat
buah jagung bakar,” kekeh Kakek. “Dua puluh tiga tahun kemudian setelah
kejadian jual-beli itu, badik yang dulu dipakai membeli si Adik, harganya malah
melonjak tinggi. Seorang kolektor menilai badik itu istimewa, punya nilai
sejarah, lalu menawar dengan harga sembilan puluh tujuh juta. Begitu tahu
lonjak harganya, si Adik ngotot membujuk Nenek untuk melepas saja badik itu ke
pembeli tadi. Kabarnya sih, badik itu akan dijadikan cendera mata kepada
seorang pejabat, kolega kolektor tadi.”
“Oya, saya berharap, kamu nanti yang
menulis cerpen ini. Saya ingin kamulah yang mewarisi kemampuan saya menulis
cerpen.” Mendadak kulihat gurat kisut wajah Kakek dikurung murung. “Keunikan
kejadian itu yang membuat saya menulis cerpen ini ... eh, bukan menulis, tapi menceritakan
pada kamu.” Lalu sejenak termangu, sebelum menyahut dalam sendat, “Juga,
kenangan yang belakangan ini makin kuat, pada si Nenek....”
Belum terpikir mengiyakan, masih
bingung menilai perubahan mendadak di wajah Kakek yang sebelumnya amat ceria, sesuatu
terletik mengusik pikiranku, membuatku menyela, “Memang tokoh si Nenek itu, ada?”
“Dia nenekmu....”
Sontak aku melongo. Dalam telikung
bingung, aku berujar, “Jadi si Kakak dan si Adik, juga tokoh nyata?”
Tawa Kakek pelan pulih. “Si Kakak itu
kamu, dan si Adik ya Ancu, adikmu.” Berjeda mengisap tembakaunya, menyemburkan
asapnya dalam ujar, “Yang membeli kamu adalah pamanmu Biding, sedang adikmu dibeli
pamanmu Unding.”
Sebelum gelak kami saling-adu dalam
bening udara sore, sempat aku berseru, “Ouw, ternyata ini kisah nyata!”
“Tidak semua cerpen fiktif, bisa saja
nyata,” dalih Kakek.
“Dan sedihnya ya, Kek,” ujarku, masih
di sela tawa, “harga jual Ancu nilainya melonjak tinggi, sedang hargaku yang
seratus rupiah itu; aduh, sekarang pun, uang seratus rupiah bisa beli apa?”
Kakek terus terkial-kial. Teringat
sebuah cerobong pabrik saat asap tembakau menyembur dari lubang hidung dan
mulutnya. “Semoga jalan hidupmu, seperti yang diniatkan nenekmu ketika
menjualmu dulu, bisa sejalan dengan harapan nenekmu itu.”
“Aamiin.” Tak kuasa mengelak,
aku jadi terharu juga. “Saya jadi paham, Kek, proses jual-beli itu berarti cuma
simbolik. Eh, yang saya pikirkan, siapa yang menentukan besaran harga saya dan harga
adik saya itu?”
“Karena transaksi jual-beli unik
ini berasal dari keyakinan nenekmu, maka harga-harga jual itu pun ditentukan olehnya.”
Entah sudah berapa cerita Kakek yang
dilisankan kepadaku. Memang pernah kuduga ia ingin aku menuliskan cerita-ceritanya
setelah ia lisankan. Hanya saja, di samping tidak cakap menulis cerita, otakku
juga sudah lelah digerus pekerjaan kantor. Setiap Kakek memaksaku mendengar
ceritanya, selama ini kuanggap cuma hiburan. Namun, karena kulihat Kakek amat
serius menginginkan aku menuliskan cerita ini, apalagi kisah nyata masa
kecilku, akhirnya aku asal mengangguk saja.
Terbit pula ide dadakan di benakku. Aku
yakin ini akan membuat mata tua Kakek menjegil bila ia membacanya. “Baik, Kek, akan
saya coba,” kataku. “Tentu Kakek mesti edit dulu, sebelum dikirim ke media.”
Sedikit bergetar, jempol Kakek
terangkat. “Tulislah cerita yang paling kamu tahu, atau malah kamu alami
sendiri,” bilang Kakek, sedikit berteori.
Tidak kuungkap ide dadakanku. Biarlah
Kakek nanti tahu saat membacanya. Akan kutukar kejadiannya: adikku yang dibeli
seratus rupiah, dan aku yang dibeli dengan sebuah badik, yang harganya kelak meningkat
berlipat-lipat itu. Enak saja aku cuma dihargai seratus rupiah, yang nilainya
sekarang, bocah pengemis saja tidak sudi menerimanya. ***
Parepare, Nov. 2018
(Cerpen ini dimuat pertama kali di tabloid: MINGGU PAGI, Yogya, Minggu I, 7 Desember 2018.)
Related Posts

